Selasa, 23 September 2008

4. Bandung-Jakarta Is An All Time Classic Romance and Starbucks is Just Where We Met…


Salah satu orang yang patut dihargai effortnya di kantor adalah Dion. Bukan apa-apa, setelah menyelesaikan semua pekerjaannya di Alive ! 9 to 5, begitu pulang dari kantor dia masih dirongrong oleh bisnisnya. Dion sering bekerja hingga larut malam untuk clothingnya itu dan besok paginya dia harus berjuang bangun agak lebih cepat supaya tidak terlambat ke kantor.

Alarm Dion berbunyi jam 7 pagi. Tapi dia tidak segera bangun karena itu adalah alarm persiapan yang berarti dia masih masih akan benar-benar bangund ari tempat tidurnya itu satu jam kemudian. Dion masih memejamkan matanya ketika sebuah bunyi yang kali ini sepertinya datang dari handphonenya tersebut berbunyi. 5 menit menuju jam delapan Dion bangun kemudian segera meraih handphone yang ia simpan tidak jauh dari tempat tidurnya tersebut. Ternyata sebuah SMS telah diterima dan Dion bukan tipe orang yang biasa menerima SMS di jam-jam ‘terlalu pagi’ seperti itu. Dengan mengerenyit Dion pun membaca SMS yang abru saja ia terima tersebut.

‘Morning Ion. Eh, bo, sori, gw ga bawa mobil lagi nih. Boleh ga gw nebeng lo? Ntar gw tunggu lo dibelokan yang waktu itu lagi, ya. Btw as compliment, gw punya JCo nih buat lo. Thnx b4.-Sissy-’

Dion pun tersenyum kemudian dengan cepat jempolnya memijit-mijit keypad handphonenya sambil segera bangkit dari tempat tidurnya.

‘Aseeek. OK bos, ntar gue jemput. Tungguin aja di belokan situ, yak.’

Bagi Dion pagi itu terasa lebih segar dari sekedar kesejukan udara pagi dan efek teh manis yang ia minum sebelum berangkat tadi. Setelah berusaha untuk tidak terlambat, Dion pun tiba di belokan tempat ia berjanji untuk menjemput Sissy. Dion menghentikan motornya tapi ia belum melihat Sissy ada disitu. Dion pun segera meraih handphonenya tapi sebuah angkutan kota yang melintas kemudian berhenti tidak jauh dari motornya itu mengurungkan niatnya. Sissy turun dari angkutan kota tersebut kemudian dengan langkah agak terburu-buru account executive Alive! tersebut menghampiri Dion sambil menyerahkan bungkus kertas yang mengeluarkan wangi yang mengundang selera.

“Sori Ion, macet gila, ampun deh…” ujar Sissy sambil menaiki motor Dion.

“Mau kemana neng ?” tanya Dion bercanda meskipun mimik wajahnya tampak serius.

“Ke kantor Alive! ya, mang…” sahut Sissy

“Lho, itu kan pangkalan saya…” celetuk Dion.

“Kalo gitu gue juga tukang ojeg dong bo…” balas Sissy dan keduanya pun tertawa.

Sekarang semua orang menilai bahwa aku memiliki sebuah pekerjaan yang menyenangkan. Waktu aku memberi tahu teman-temanku bahwa aku bekerja di sebuah kantor dimana para pegawai perempuannya tidak segan-segan menunjukan kaki dan dada, sama seperti cowok-cowok straight lainnya mereka langsung menyebut bahwa aku memiliki pekerjaan yang menyenangkan, menyebut bahwa kantor aku seperti surga, dan ada sebuah pertanyaan bodoh dari salah satu sahabatku, Ananta.

“Terus, lo udah nge-date sama salah satu staf lo ?”

“Nggak…” jawabku singkat.

“Atau jangan-jangan lo udah jadian sama salah satu dari mereka.”

“Belum sih-, maksud gue…nggak lah…” dan kali ini Ananta dan Fadly tertawa-tawa.

Gue nggak maksud ngejawab kayak gitu, soalnya terus terang gue sampai saat ini bahkan nggak pernah ngebayangin gue nge-date sama salah satu dari staf cewek Alive !.

Semenyenangkan-menyenangkannya kantorku menurut penilaian orang terutama dari kaca mata laki-laki, Salma yang sering menunjukkan sepasang kaki jenjangnya atau Dinda yang sering tampil dengan menunjukan punggung dan dadanya tetap saja tidak bisa menyelamatkanku dari hari-hari yang kurang menyenangkan. Seperti hari itu, aku tiba dikantor dengan memikirkan beberapa iklan yang harus segera digarap dan tulisan-tulisan yang harus aku edit sementara deadline semakin mendekat. Dan, kaki jenjang atau baju-baju terbuka bukanlah jaminan dari sebuah kantor untuk bisa tidak memberikanmu stress. Begitu aku menjejakan kaki di anak tangga paling atas kantor, Miranda yang sebelumnya memang melangkah menaiki tangga dengan terburu-buru dibelakangku seperti sedikit mendorongku seperti tidak sabar.

“Sorry, Ric,” ucap Miranda yang sibuk dengan telponnya sementara aku hanya mengangguk dengan senyum tipis dan PR Alive! itu terus melangkah dengan gusar menuju kantornya sambil terus berbicara di handphone. “Iya Mbak, waktu itu kan saya udah confirm tentang logo kita…, iya…,”

Got to get a cup of coffee, ngedit tulisannya Rahmi, ngingetin Dinda ngumpulin tulisannya kontributor…

Begitu aku akan membelok masuk ke dalam dapur, jari-jari lentik Eliza menyentuh dadaku dengan sebuah dorongan yang lembut sehingga aku harus menghindari Si Cantik Beracun yang tengah membawa secangkir teh hijau panas.

“Sorry, Ric,” ucap Eliza.

“OK,” jawabku singkat dan terdengar gumaman dari bibirnya.

“Gue musti follow up BCBG, hampir aja lupa…”

Aku sendiri sepertinya tidak bisa bersantai-santai pagi itu. Begitu selesai menyeduh kopi secangkir kopi hitam yang mengeluarkan wangi yang menyegarkan, aku tidak bisa berlama-lama dengan Paul dan Amed di dapur yang sedang memikirkan distribusi Alive ! di tempat-tempat yang belum mereka jangkau dan melakukan hal yang bisa jadi paling dibenci oleh orang-orang di ruang redaksi.

Barking order time…

“Mi, liputan lo yang runwaynya Bian kemaren udah selesei ?” tanyaku begitu melewati pintu ruang redaksi.

“Lagi gue baca lagi Ric. 5 menitan lagi, ya…” sahut Rahmi.

“Sar, yang ngerjain disain William Rast lo apa Dion ?”

“Dion, Ric…” Sara menjawab tepat disaat Dion baru saja tiba di ruang redaksi.

“Bentar Bos, mau gue rapihin dulu dikit.” Dion memastikan.

“Sip, ntar kalo udah beres masukin folder gue, ya. Mau di proofing dulu soalnya. Sal, gimana udah dapet model-model buat Scherer-Gonzalez ?”

“Udah ada Ric,” Salma pun segera keluar dari balik mejanya dan berjalan menghampiri mejaku dengan membawa dua lembar foto dan menaruhnya di mejaku dengan maksud agar aku bisa melihatnya. “Gimana, apa kita mau casting lagi hari ini ?”

“Mmm…,” gumamku sejenak sambil memperhatikan lembaran-lembaran foto yang disodorkan oleh Salma. “Nggak usah deh, langsung aja.”

“OK deh...”

“Din, tolong telponin Amel sama Vero dong, artikelnya udah dikirim blom ?”

“Vero udah ngirim. Tulisannya udah ada di folder lo, Amel lagi gue telpon nih,” jawab Dinda dengan telepon di kuping. “Halo Mel…”

Bahkan ruang marketing yang dikuasai oleh Mbak Shinta dan Ronald yang ‘jagonya’ ngomong saja di saat-saat tertentu bisa jadi sangat tenang. Begitu juga ruang redaksi. Aku jadi ingat hari pertama kami berada dalam satu ruangan, aku dan Dion lah yang memecah keheningan karena membicarakan Amed yang membuat cewek-cewek yang ada disitu ikut tertawa bahkan berkomentar dan mendadak ruang redaksi jadi ramai sampai-sampai waktu itu Mbak Shinta sempat ingin satu ruangan dengan kami Cuma gara-gara Dion melontarkan candaan-candaan sarkasnya.

Setelah makan siang, ruang redaksi memang tidak sesepi itu karena sambil mengedit beberapa tulisan yang masuk aku bisa mendengar sedikit-sedikit Dinda dan Salma berdiskusi tentang pemotretan yang akan berlangsung besok. Sementara Dion mengasingkan diri dengan headphonenya, Rahmi dan Sara juga sepertinya terlibat obrolan yang seru.

“Jadi kakaknya si Paul udah dateng kemaren ?” Tanya Sara sambil terus sibuk dengan tampilan layer komputernya pada Rahmi.

“Iya, cuman kemaren kakaknya lagi ada acara gitu deh sama temen-temennya, nggak jadi deh gue ketemu sama kakaknya…” sahut Rahmi berhenti mengetik.

“Lega dong lo…”

“Yaaa, nggak gitu juga sih. Lagian kayanya jadinya hari ini gue ketemuan sama kakaknya.”

“Oh, belum lega juga toh, ternyata…” Sara pun tertawa pelan.

“Nggak tau kenapa gue jadi berpikir bahwa kakaknya Si Paul tuh jadi kaya perwakilan nyokapnya gitu, ngerti nggak ?”

Sara pun memalingkan wajahnya memandangi Rahmi dengan tenang yang berada di balik kubikels sebelah.

“Maksudnya lo berpikir bahwa ntar kakaknya Paul bakalan ngasih tau ke nyokapnya lo seperti apa…?”

“Ya gitu, tau deh. Gara-gara Paul bilang kalo dia mirip-mirip sama gue, terus kita bisa get along, gue cuman takut aja ternyata gue nggak bisa akrab sama kakaknya kan ?”

“Lo takut ngecewain Paul ?”

“Iyaaa…, kan kasian juga dia.”

“Ya, Mi, liat aja ntar. Toh kalian juga belum ketemu.” Sarah berkata dengan nada menenangkan.

Agak iri juga sebenarnya melihat Rahmi dan Sara mulai tertawa-tawa kecil di belakang meja mereka sementara aku harus berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaanku. Tapi beberapa saat kemudian handphone yang aku letakan tidak jauh dari lap topku itu pun berbunyi. Aku pun segera meraihnya dan belum apa-apa aku sudah mengutuk karena aku memperhatikan bahwa pesan promosi provider yang agak mengganggu itu sering masuk di jam-jam seperti itu. Benar saja, begitu melihatnya, aku sudah menghapus ajakan menghambur-hamburkan pulsa tersebut tanpa membacanya terlebih dahulu. Tapi begitu aku meletakan kembali handphone kenangan tersebut, alat komunikasi yang belum kunjung aku kuasai semua fiturnya tersebut kembali berbunyi tanda sebuah pesan kembali diterima. Aku kembali meraih handphoneku dan membaca pesan yang masuk tersebut.

‘Hi Ric. Gue lagi on the way ke Bandung nih. Ntar gue kabarin lagi kalo gue udah nyampe, ya ;) –Milla-’

Seperti biasanya jam pulang kantor selalu disambut dengan meriah. Meskipun sebenarnya sejak dari jam 4, ruang tengah sudah kembali menjadi tempat untuk para staf Alive! dan itu adalah sebagai tanda bahwa hari itu semua orang tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Setelah sempat ada acara minum teh dadakan, tepat jam 5 seperti biasanya kami pun bergerombol untuk meninggalkan kantor. Dan sepertinya hari itu semua orang sudah memiliki rencananya masing-masing, ada yang sudah direncanakan, ada juga yang dadakan.

Saat itu yang menjadi keinginan Miranda hanyalah pulang ke tempat kosnya, lalu kembali menikmati segelas kopi dan canda-tawa dengan teman-teman satu kosannya yang kadang-kadang membuat ia merasa memiliki keluarga di Bandung. Dengan tenang Miranda duduk di belakang kemudi berusaha bersabar menghadapi kemacetan yang harus ia hadapi hamper setiap hari sampai akhirnya handphone-nya pun berbunyi. Miranda segera meraih handphonenya tersebut dan sempat merencanakan untuk menjawabnya dengan tidak menyenangkan bila itu adalah panggilan yang tidak penting. Tapi begitu melihat nama dilayar handphonenya yang berkedip-kedip tersebut, wajahnya menunjukan sedikit keceriaan.

“Sore…,” sapa Miranda dengan sedikit nada candaan.

“Sore, lagi dimana Mir ?” terdengar suara Hardian membalas.

“Gue lagi di Bandung, lah…”

“Dan lo bekerja untuk majalah fashionnya Alive!…” ucap Hardian dan Miranda pun tertawa singkat.

“Udah tau kan ? Kok nanya lagi ?” Miranda bertanya dengan maksud bercanda.

“Lo nggak keberatan kan gue bertanya karena gue berada di kota yang menyenangkan ini dan gue benci untuk menikmatinya sendirian sementara beberapa jam lagi gue harus balik ke Jakarta…”

Melihat Paul dan Rahmi itu serasa melihat Brad Pitt dalam balutan Zegna dengan Angelina Jollie bergaya Lara Croft tanpa celana pendeknya.

Rahmi keliatan keren waktu launching dengan gaun dan high heels, tapi ngeliat dia kayak gitu justru jadi serasa ngeliat orang lain, bukan Rahmi. Mungkin emang gayanya yang kayak gitu yang bikin Paul suka sama dia.

Sore itu keduanya sudah berada di sebuah café di mall Dago untuk menemui kakaknya Paul. Rahmi memang menjadi merasa agak canggung dengan rencana Paul untuk mengenalkan dirinya dengan kakak Paul yang menurut pacarnya itu mereka akan cocok. Tapi entah kenapa Rahmi justru berpikir bahwa mungkin, kakak cowoknya itu akan berharap bahwa Paul akan memperkenalkan seorang Dinda, cewek yang berpenampilan sangat modis, ayu, sehingga begitu kakak perempuan Paul itu melihat dirinya, ibu Paul mungkin akan menerima berita; ‘ceweknya Paul itu cantik, supel, behave, pokoknya calon mantu yang mantap deh…’. Tapi sekarang yang ada di kepala Rahmi adalah bagaimana kalau nanti berita yang diterima oleh ibu Paul adalah; ‘ceweknya Paul tuh manis lah (Mudah-mudahan seperti itu), lumayan supel anaknya cuman ya ampun, dia tuh berantakan banget…’. Jadinya, tidak heran kalau saat itu langkah-langkah Rahmi terasa agak kaku dan Rahmi merasa ini seperti waktu dia akan mengikuti panggung tujuh belasan dengan tarian bodoh saat dia masih kecil dulu.

“Tuh, kakak gue…” ucap Paul ketika ia dan Rahmi telah sampai di café yang mereka tuju. Paul memandang ke beberapa orang yang sedang duduk bersama di sebuah meja dipojok teras Tra La La café itu.

Dengan cepat Rahmi melakukan analisa. Disitu ada empat orang wanita dan seorang pria. Seorang cewek cantik dan bergaya yang sepertinya sedang bersama dengan cowoknya – Paul tidak memberitahu dirinya bahwa kakaknya itu akan datang dengan pacarnya-, dua cewek yang satu memiliki badan yang berisi sementara yang satu lagi langsing tapi semuanya kelihatan tampil sangat modis, lalu…salah satu diantara mereka, cewek yang rambutnya dipotong lebih pendek daripada Rahmi dengan highlight merah pun bangkit dari tempat duduknya. Perempuan itu memakai tank top yang santai dan sederhana tapi terlihat sangat modis, sementara dikepalanya menempel sebuah sunglass yang sepertinya sekarang berfungsi untuk menahan poni rambutnya yang dibelah pinggir dan cewek itu menghembuskan asap rokoknya sambil berkata dengan suara yang agak lantang.

“Halo…,” sapa perempuan yang cukup cantik dengan make-up tipis di wajahnya itu menyapa Rahmi dan Paul.

“Hai, Paul…” sapa cewek-cewek yang lain pada Paul.

“Hai…,” balas Paul yang langsung menyalami orang-orang tersebut bergantian sementara Rahmi masih berdiri santai menutupi kecanggungannya. “Eh, Kak, ini Rahmi cewek gue…” ujar Paul pada si rambut pendek lalu terdengar celetukan-celetukan iseng yang membuat Rahmi hanya tersipu malu.

“Oh, iyaaa…,” ujar kakak Paul tersebut dan Rahmi pun langsung datang mendekat untuk bersalaman. “Tyra…,”

“Rahmi…,” Rahmi pun memperkenalkan diri dan Tyra pun menempelkan kedua pipinya pada pipi Rahmi. Setelah itu Tyra pun memperkenalkan Rahmi dengan teman-temannya.

“Sorry ya kemaren katanya kalian udah nunggu mau ketemuan ya ?” ujar Tyra dengan hangat saat Paul dan Rahmi telah duduk satu meja dengannya.

“Iya…” jawab Rahmi masih agak malu-malu dengan singkat.

“Lagian lo nggak bilang kalo ada acara…” ujar Paul pada kakaknya itu.

“Lha lo nggak bilang sama gue kalo mau ketemuan kemaren, jadi gue harus mendampingi mereka-mereka ini untuk begaol gitu…” ucap Tyra yang gaya bicaranya mulai membuat Rahmi merasa lebih rileks. “Kan nggak ada yang tau jalan-jalan Bandung nih ceritanya, cuman gue yang hafal, jadi lah ya bo, gue harus mengantar om dan tante-tante ini jalan-jalan kemaren…” Tyra berkata pada Rahmi dengan gaya berbicara yang sangat khas.

“Ah, itu juga nyasar-nyasar, giling…” celetuk Mega, teman Tyra yang memiliki badan berisi dan Tyra pun tertawa.

“Gue juga udah lupa-lupa inget sih…” bela Tyra.

“Padahal kemaren ajak Paul aja, dia nyantai deh kayanya kemaren...” kali ini Rahmi bisa berucap agak lebih lebih panjang.

“Iya, gue juga kepikirannya gitu. Kenapa gue nggak ngajak kalian aja ya…?”

“Dia malah bilangnya pas kita udah di Sukajadi Mall gitu, setelah sempat muter ke Setiabudhi…” celetuk Arya, teman cowok Tyra yang disambut tawa oleh semua orang.

Obrolan-obrolan itu pun terus berlanjut. Dan Rahmi pun juga mulai bisa menikmati tempat duduknya sementara Tyra, ternyata Paul benar. Tyra adalah seorang perempuan yang cantik dan sangat supel. Saat itu juga semua apa yang sudah dipikirkan oleh Rahmi sebelumnya terlupakan. Kakak perempuan Paul itu ternyata adalah seorang yang sangat menyenangkan.

Satu kali di tahun pertama aku kuliah, aku dan bandku yang sering dikritik Papa sebagai sebuah band yang bising tak bernada manggung disebuah acara underground. Ini lucu. Waktu itu aku mengajak seorang cewek yang masih duduk dibangku kelas 3 SMA untuk menjadi teman kencanku -OK, bahasa kerennya groupies mungkin- dengan konyolnya karena sebenarnya, aku tidak terlalu mengenal adik kelas temanku itu. Tapi sok akrab ternyata membuahkan hasil yang…,kurang bagus memang. Sekembalinya dari mangunggung malam-malam, aku mengantarkannya pulang dan kami mendapatkan 15 menit yang menyenangkan di halaman rumahnya.

Cewek itu ngitung berapa lama kita ciuman. Agak terdengar sinting sih emang tapi setelah itu aku juga mengetahui ternyata beberapa orang juga melakukannya…

Sesudahnya, kami jarang bertemu hingga akhirnya dua minggu kemudian, aku mengetahui kalau cewek itu sudah menjadi pacar dari seorang pemain band terkenal. Sedangkan aku yang sedang tergila-gila dengan seorang cewek dikampus, sama sekali tidak merasa bahwa itu adalah sebuah masalah.

Menurut gue sih, seperti itulah one night stand itu kira-kira. Senang-senang hanya untuk beberapa saat dan semuanya selesai…

Milla. Jika aku menyebut pertemuan aku dengan Milla itu adalah sebuah keajaiban mungkin berlebihan. Tapi, mencium seseroang dengan penuh hasrat di hari pertama kenalan dan tidak mendapat tamparan, itu adalah keajaiban…

Prestasi mungkin, tapi emang gila…

Seseorang bisa membuatmu merasa nyaman dalam waktu yang singkat itu jarang-jarang terjadi. Itulah kenapa aku ngotot pada teman-teman untuk mengatakan ini bukan one night stand. Ini bukan masalah Milla yang menurutku dia cantik, sangat ‘berani’ dalam berpakaian dan kakinya bagus. Di luar penilaian secara fisik, semuanya terjadi karena aku bisa merasa nyaman dengannya dan sepertinya Milla juga bisa menerimaku dengan baik, sangat baik malahan. Satu hal yang aku sukai dari Milla adalah karena dia tidak ragu-ragu untuk mendekatiku, dia bisa membuatku tidak merasa seperti orang asing. Tapi dia juga tidak sok akrab atau malah banyak berdiam diri dan bilang bahwa aku terlihat lebih baik dengan t-shirt dan jeans ketimbang baju butik ternama yang mahal, aku pikir itu adalah sebuah kejujuran.

Milla mengajakku untuk bertemu di Sukajadi Mall sore itu. Waktu aku menanyakan padanya dalam rangka apa apa dia ada di Bandung saat itu, dia hanya menjawab bahwa dia ada kerjaan. Ada sedikit perasaan tidak sabar dalam hatiku untuk bertemu lagi dengan Milla dan selalu saja terlintas dalam benakku bahwa ini adalah hal yang tidak benar tapi aku tidak memikirkannya lebih lanjut. Aku sendiri tidak mengerti, tetapi setiap menyebut nama Milla, aku selalu memikirkan sebuah kejutan.

Gue excited, dan dia udah bikin kejutan dengan datang ke Bandung sekarang…

Dengan langkah agak terburu-buru karena aku tidak ingin membuat Milla menunggu terlalu lama, aku pun tiba di Starbucks, tempat Milla menungguku dan aku langsung dapat melihat dia disana dengan strappy one piece putih bercoraknya. Sebuah pemandangan eksklusif yang lucunya aku berkata begitu saja dalam hati…

There’s my sexy one…

Melihat kedatanganku, Milla segera bangkit dari tempat duduknya dan menyambutku dengan senyumannya yang khas.

“Halo…,” sapa Milla cerah.

“Hai…,” balasku dan begitu aku menjabat tangannya, Milla menempelkan pipinya pada kedua pipiku.

“Guys, kenalin, ini Rico, chief editornya majalah Alive!” ucap Milla kemudian memperkenalkanku pada beberapa temannya yang datang bersama dengannya. Rupanya Milla datang ke Bandung karena majalah Putri melakukan sebuah sesi pemotretan yang kebetulan berlokasi di jalan Asia-Afrika dan Braga. Dan oleh karena itulah Milla datang bersama-sama dengan beberapa model yang masih berusia belia, seorang stylist dan fotografer dari Majalah Putri.

“Jadi lo dalam rangka kerja nih dateng ke sininya ?” tanyaku pada Milla setelah aku duduk dengan santai disebelahnya.

“Iya, ini juga gue ngedadak. Tadinya gue nggak berencana untuk ikut sih…cuman karena kebeneran kerjaan gue juga lagi nggak banyak, akhirnya gue pikir ya udah deh, gue ikut pemotretan aja, lumayan sambil main…” Tutur Milla.

“Gue tadi agak kaget juga sih pas lu nge-SMS gue tadi. Kok lo nggak bilang kemaren pas gue nelpon lo ya ?” ujarku dan Milla pun tertawa ringan.

“Ya, namanya juga mendadak…”

“Jadi rencana lo apa nih ?” tanyaku iseng

“Justru itu, karena gue nggak rencana juga dateng kesininya, gue berharap lo yang punya rencana…” ucap Milla yang memandangiku lekat.

Well, so, let’s start make some plan…” ucapku dengan candaan dan Milla kembali tertawa ringan.

Keinginan Miranda untuk sekedar berteman dengan Hardian justru telah membuahkan perasaan yang lebih terhadap chief editor papan atas tersebut. Miranda mengenal pemimpin redaksi majalah Statement tersebut ketika ia masih kuliah dan Hardian menjadi seorang pemberi materi disebuah workshop jurnalistik yang diadakan oleh kampusnya tersebut. Awalnya mereka hanya berkenalan biasa sampai akhirnya mereka bisa menjadi lebih akrab setelah sebelumnya Miranda sempat bekerja di sebuah majalah lokal yang kebetulan pemiliknya adalah salah seorang sahabat Hardian. Tapi justru baru setelah Miranda bekerja di Alive! lah ia bisa menjadi benar-benar dekat dengan Hardian.

Wangi parfum yang sangat khas itu merebak seolah-olah memberikan aroma terapi bagi Miranda untuk bisa merasa lebih segar lagi sore hari itu. Sudah beberapa menit lamanya ia duduk berbincang-bincang kesana kemari dengan Hardian di salah satu meja yang ada di Starbucks Cihampelas mall tersebut.

“…kan gue bilang tuh sama anak-anak gue abis dari pestanya Alive!, terus anak-anak protes gitu kok nggak diajak…” tutur Hardian yang segera disela oleh Miranda.

“Lho, Mas Satya kan ada, Mas Ferdi kan aku undang tuh, tapi dia sendiri yang bilang nggak bisa dateng, jadi chief editornya Soul yang baru itu yang dateng. Mas Aji juga nggak bisa dateng. Yang lainnya sih, ya maaf, nggak ada di list gue, gitu…” Miranda berkata diakhiri tawa.

“Iya, makanya gue bilang, kalian diundang nggak ? Kalo nggak ya berusaha lebih keras aja lain kali. Gue gituin aja…” timpal Hardian dan keduanya kembali tertawa.

Setelah itu untuk sesaat suasana pun menghening sejenak. Saat itulah Miranda menangkap sesuatu dari seorang Hardian. Sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia lihat dari sosok yang diam-diam ia puja dalam hatinya tersebut. Ia belum pernah melihat Hardian gundah sebelumnya, tapi entah mengapa sore itu Miranda bisa tahu bahwa Hardian sepertinya berbeda, ada sesuatu yang sepertinya ‘mengganggu’ perhatian sang pemimpin redaksi.

“Lo…terlihat gundah…” celetuk Miranda kemudian sambil menyalakan sebatang rokok. Hardian sempat memandangi Miranda sesaat, sebelum ikut menyalakan sebatang rokok.

“Keliatan banget ya ?” balas Hardian bertanya.

“Nggak juga sih. Cuman lo tampak agak beda aja. Nggak fokus…”

“Ya berarti keliatan…”

“Nggak banget tapi…”

“Atau mungkin cuman lo yang bisa ngeliat…“ ucap Hardian dan keduanya pun saling berpandangan.

Wanna talk about it ?”

“Lo yakin mau dengerin gue ngobrolin hal ini ?”

Try me…”

Hardian menghembuskan asap rokoknya, ia terlihat ragu sejenak tetapi kemudian ia pun kembali berkata.

It’s about my wife…” Hardian berucap pelan.

“OK…, so, how’s she…?”

She wants a ‘break’…”



“Eh, Ric ada salam dari Fany,” ucap Milla sambil menyuapkanku sepotong tiramisu.

“Apa katanya ?”

“Iya, jangan nakal katanya…”

Secara tidak sengaja aku pun tersedak mendengar apa yang diucapkan oleh Milla dan ia pun segera memberikanku secangkir frappuccino.

“Emang lo bandel ya ?” tanya Milla perlahan dengan dagu terangkat dan mimik jahil.

“Nggak, si Fany aja tuh yang becanda…” belaku dengan tersenyum.

“Berarti iya,”

“Menurut lo ?”

“Bandel banget…” ucap Milla lalu meneguk frappuccinonya dengan senyuman.

Milla bisa membuatku merasa nyaman meskipun saat itu ia sedang bersama dengan teman-temannya yang lain. Aku bisa berbincang-bincang dengan cukup baik dengan Doddy sang fotografer, sementara stylist majalah Putri yang juga seorang editor itu berusaha beberapa kali meyakinkan dirinya bahwa aku straight.

Susah juga emang jadi cowok yang nggak sengaja nyasar di dunia fashion…

“So, kita mau kemana nih ?” tanya Milla kemudian kepadaku.

“Lo sampe jam berapa disininya ?” balasku bertanya.

“Tau nih anak-anak sih bilang paling telat jam 8-an udah mo balik,”

“Keliling-keliling disini aja kali ya ?” ujarku melemparkan pendapat.

“Terserah lo…” jawab Milla antusias.

Setelah memastikan pada teman-teman Milla bahwa kami akan kembali berkumpul di warung kopi tersebut akhirnya aku memiliki kesempatan untuk berdua saja dengan Milla. Kami hanya berjalan-jalan sebentar mengelilingi Mall tersebut, kemudian Milla pun mengajakku untuk mampir di sebuah departemen store yang ada disitu.

“Lucu nggak sih ?” tanya Milla padaku sambil menempelkan sebuah baju yang tiba-tiba saja membuatku membayangkan bagaimana kalau Milla mengenakannya tanpa bawahan seperti legging.

“Lucu, bagus…” jawabku singkat sementara Milla kembali meraih sebuah baju yang bermodel hampir sama.

“Kalo sama yang ini lucuan yang mana ?” tanya Milla lagi dan sebenarnya aku berpikir seharusnya dia yang lebih tahu.

Tapi kalo gue bisa milihin baju buat dia mungkin lebih sweet

“Yang itu…” aku dan Milla saling berpandangan sejenak dan entah apa yang ada di dalam pikiran kami saat itu, aku dan Milla malah saling melemparkan senyum. “Jujur aja, yang pertama tadi terlihat…lebih seksi…” ucapku dengan mengangkat sebelah alisku dan Milla pun tertawa ringan dengan lepas.

“OK,” Milla tampak membanding-bandingkan kedua baju tersebut sejenak. “kayaknya mending dicobain dulu, lah ya…”aku pun mengantar Milla menuju fitting room.

“Lo seneng banget belanja ya ?” celetukku pada Milla.

“Aduh, maafin ya, bo. Gue emang nggak bisa liat barang bagus dikit. Mustinya tadi lo bilang jelek pasti nggak jadi gue coba deh…”

“Yakin lo ?”

“Yaaa…, nggak tau juga sih ya…” jawab Milla dengan tawa.

Ketika Milla masuk ke dalam fitting room, dengan santainya aku pun melangkah melalui pintu kamar pas tersebut sementara Milla sibuk dengan baju pilihannya tersebut. Setelah aku mengunci rapat pintu dari fitting room itu, Milla membalikan badannya dan seperti sudah direncanakan sebelumnya, aku pun segera menyambut tubuh Milla dalam pelukanku dan bibir kami pun bertemu. Sejurus kemudian Milla meregangkan wajahnya lalu ia menatapiku dalam.

Miss you, Ric…”

Miss you too…”

Aku pun memeluk tubuh Milla erat-erat, kemudian mengecupnya dalam sementara Milla, ia membiarkan tubuhnya kehilangan balutan one piece cantik yang ia kenakan tersebut.

Dan gue bisa mendengar lagu Whenever You Call dari Mariah Carey dan Brian Mc Knight sayup-sayup menggaung malam itu…

Sekarang, sudah tidak ada lagi perasaan canggung yang dirasakan oleh Rahmi setelah selama beberapa jam ia dan Paul bersama-sama dengan Tyra dan teman-temannya. Ternyata apa yang dikatakan oleh Paul benar. Tidak sulit bagi dirinya untuk bisa akrab dengan Tyra, sedangkan Tyra sendiri bisa membuat dirinya merasa nyaman dan tidak asing. Beberapa kali mereka terlibat obrolan tentang buku-buku favorit mereka yang justru membuat Paul bingung, hingga membicarakan film atau hal-hal yang tidak penting lainnya.

“Jadi kapan nih rencananya, Paul ?” celetuk Arya iseng pada Paul.

“Rencana apa nih maksudnya ?” Paul balas bertanya.

“Married…” sahut Arya.

“Wah…,” Paul hanya bisa menjawab singkat sambil memandangi kakaknya sejenak sementara Rahmi rasanya seperti dipaku di tempat duduknya. “belum, man. Belum berencana kesana…”

“Alaaah, udah lo nggak usah nunggu dia,” timpal Mega maksudnya pada Tyra. “Bisa lama ntar kalo nunggu dia dulu sih…” teman-teman Tyra pun tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Mega.

“Kesannya gue nggak laku gitu ya, bo ?” celetuk Tyra dengan candaan.

“Lho, emang lo laku ya, Ra ?” tambah Arya sehingga tawa pun semakin merebak.

“Nggak sopan ! Kalo gue sih yang penting nggak asal laku…” bela Tyra kembali dengan nada bercanda. “Emang lo udah yakin sama dia, Mi ?” ujar Tyra sekali lagi bercanda pada Rahmi yang hanya tersenyum lebar.

“Nnggg…, Nggak perlu dijawab kan ?” sahut Rahmi yang kembali membuat yang lain tertawa.

“Udah, udah, obrolannya udah mulai sakrkastik nih, ganti topik, ntar ada yang nangis lagi…” Mega menandaskan diikuti tawa dan gunjingan-gunjingan tambahan.

Rahmi dan Paul pun saling berpandang-pandangan sejenak dan Rahmi bisa melihat seolah-olah cowoknya itu berkata semuanya baik-baik saja dan Rahmi sangat menikmati malamnya itu.


Entah apa kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan Miranda saat itu pada Hardian. Kasihan, iba, atau mungkin simpati setelah pemimpin redaksi majalah Statement itu menuturkan kisahnya. Miranda tahu bahwa Hardian mungkin tidak bisa menceritakan semuanya dengan jelas pada Miranda karena itu adalah masalah pribadinya. Yang jelas saat itu Hardian bercerita bagaimana sepulangnya ia dari launching Alive!, Nadine sang istri tidak ada dirumah dan ketika dihubungi, Nadine tidak ingin untuk bertemu dengan dirinya. Setelah berusaha untuk menemui istrinya tersebut, Hardian mendapat jawaban bahwa Nadine tidak ingin diganggu dan sedang ingin sendirian sehingga akhirnya dengan kebingungan Hardian pun kembali ke Jakarta. Hari itu Nadine memutuskan untuk bertemu dengannya, itu pun hanya sebentar untuk memberitahukan secara langsung bahwa Nadine sedang tidak ingin untuk bertemu atau bahkan berkomunkasi dengan Hardian sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

“Sebenernya gue bingung juga-, mungkin dia pengen divorce…” kata-kata Hardian pun terhenti sementara Miranda hanya terdiam memandangi Hardian yang duduk diseberangnya. “Tapi yah, gue berusaha berpikir postif aja sekarang sih.” Kali ini Hardian mengakhiri kata-katanya dengan tatatapan menerawang.

“Mungkin,” Miranda pun memberanikan diri untuk berkata dengan lambat. “lo harus lebih bersabar lagi buat mengahadapi masalah ini, maksud gue, kalo misalkan ada sesuatu yang nggak bener atau rusak, maybe you should fix it.”

“Ya, I see. Ya udahlah, we’ll see. Lagian sebenernya gue nggak mau membicarakan hal ini sama siapa-siapa.” Tandas Hardian dan sekarang Miranda dapat melihat raut wajah Hardian sekarang tampak sudah agak menjadi ringan.

But you looks better now…”

Am I ?”

“Iya…,”

Thanks to you then.” Ucap Hardian dan Miranda pun tersenyum.

“Kenapa gue ?”

“Kalo gue nggak ngomongin ini sama lo, mungkin gue nggak akan terlihat lebih baik.”

“Emang lo nggak cerita ke siapa-siapa lagi selain gue ?”

“Ada sih temen gue. Tapi kadang-kadang laki-laki nggak bisa nyelesein masalah lelaki…” kata-kata Hardian itu pun membuat Miranda tertawa manis dengan pelan.

Setelah sempat berbincang-bincang lebih lama lagi di Starbucks dan Hardian sudah tampak lebih cerah daripada bulan yang sedang bersinar malam itu, akhirnya Editor in Chief Majalah Statement tersebut pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta.

“Thanks udah mau nemenin gue ya, Mir,” ucap Hendrian sambil membukakan pintu mobil Miranda.

“Sama-sama,” ucap Miranda tersenyum.

“Kapan lo balik ke Jakarta ?”

“Nggak tau nih, mungkin minggu ini kalo gue nggak terlalu males buat ngebut di Cipularang…” Hardian pun tertawa pelan mendengar apa yang diucapkan oleh Miranda.

Untuk sementara keduanya saling berpandangan ketika Miranda telah duduk di depan kemudi sementara pintu mobilnya itu masih terbuka.

“Pulang, Di. Banyak hal yang musti lo lakukan…” ucap Miranda pada Hardian.

“Iya, I just…”

Keduanya kembali berpandangan dan Miranda pun mencondongkan badannya kemudian mendaratkan kecupan di pipi Hardian.

You’ll be okay…,” ucap Miranda perlahan lalu ia pun menutup pintu mobilnya.

Kijang Innova silver itu kemudian meluncur meninggalkan lapangan parkir sementara Hardian kemudian berjalan menuju mobilnya yang diparkir tidak jauh dari situ.


Dion terduduk diam di ruang tamu rumah yang cukup besar dengan gaya interior klasik tersebut. Jiwa disainernya langsung mengkritisi hiasan-hiasan yang menempel di dinding ruangan tersebut termasuk benda-benda lainnya dan sepertinya satu-satunya hal yang ia sukai dari ruangan tersebut hanyalah sofanya yang memiliki disain yang ia perkirakan harganya cukup mahal dan tempat ia duduk tersebut memang sangat nyaman. Meskipun begitu, ia masih duduk dengan kaku tapi tetap membuat dirinya sesantai mungkin sambil menikmati sebatang rokok.

Untuk sesaat Dion menerawang sambil memikirkan bagaimana jika beberapa hiasan di ruangan tersebut ia tata ulang agar terlihat lebih baik lagi sampai akhirnya sang empunya rumah pun datang

“Nih minum dulu, kasian tukang ojeg gue, hehehe…” Sissy muncul sambil tertawa pelan membawakan nampan yang tampaknya diatasnya terdapat dua gelas –yang cukup besar- teh manis, mungkin, dengan beberapa jenis kue-kue.

“Wah, apaan nih, nggak usah repot-repot Sy, jadi enak gue…” celetuk Dion dingin dengan tersenyum.

“Biar lo punya tenaga buat pulang ntar. Kalo lo masuk angin terus nggak masuk kerja gara-gara nganterin gue, ntar Rico mencak-mencak lagi sama gue…” ucap Sissy sambil menaruh apa yang ia bawa tersebut di atas meja, lalu duduk disebelah Dion.

“Diminum, ya Sy,” ujar Dion sambil meraih gelas berisi teh manis tersebut.

“Nggak boleh,” canda Sissy dan tentu saja Dion tidak menghiraukan apa yang dikatakan temannya tersebut dan malah balas bercanda.

“Lagian dibawa kesini…” Sissy pun tertawa mendengar ucapan Dion yang segera menyeruput minumannya yang masih panas tersebut.

“Awas panas…!” Sissy berucap tertahan sementara Dion terlanjur mencicipi teh dengan air mendidih tersebut.

“Banget !” tambah Dion dan Sissy kembali tertawa. “Kuenya dulu deh kalo gitu…”

Keduanya kemudian terlibat obrolan santai sambil menikmati kue-kue buatan ibu Sissy dan segelas teh yang akhirnya menghangat tersebut. Mulai dari membahas pekerjaan hingga hal-hal lain. Dion yang selalu menanggapi segala sesuatu dengan santai bahkan disaat dia sedang bercanda pun ternyata membuat Sissy bisa menikmati saat-saat melepas lelahnya setelah bekerja seharian tersebut.

“Sy, makanannya udah siap tuh,” terdengar suara Ibu Sissy dari ruangan yang lain.

“Yuk, makan, yuk,” ajak Sissy pada Dion.

“Wah, jadi ini baru menu pembuka nih ?” ujar Dion dan yang dimaksud adalah kue-kue yang dihidangkan oleh Sissy sebelumnya.

“Iya, sengaja gue, biar lo gendutan dikit…” celetuk Sissy jahil sambil bangkit dari tempat duduknya.

“Tau gitu gue makan dikit aja tadi kuenya…”

“Udaaah…, kekurangan lemak aja masih protes…”

“Maskud gue bair gue bisa makan banyak…”

“Dasar, kurus-kurus gembul…”

Mbak Shinta sudah sering memuji Eliza –selain karena pekerjaannya yang selalu beres- dengan kata-kata: ‘Tuh anak emang hot,’ atau ‘Si Liz tuh hot’. Dan Eliza tidak perlu melakukan hal-hal yang berlebihan untuk bisa menjadi seorang hot geek magnet. Dan yang diperlukan oleh account excecutive Alive! itu hanya senyum seadanya, tatapan mata yang khas, gerak-gerik yang santai namun luwes dan tentunya sedikit sentuhan dari Marc Jacobs.


Eliza tinggal disebuah rumah yang sebelumnya ia tinggali bersama kedua orang tuanya sebelum akhirnya, ayahnya yang bekerja di sebuah perusahaan waralaba ternama itu harus kembali berdinas di Jakarta. Jadilah sekarang dia tinggal dengan Amel, sahabatnya dan seorang pembantu yang sudah menjadi seperti pengasuhnya.

“…dia lucu, tapi he’s kinda messed up sih bo, menurut gue sih…” ucap Eliza sambil memegang secangkir cokelat hangatnya dekat-dekat ke bibirnya pada Amel yang sudah setengah berbaring di sebelahnya. “Not that mess actually. Maksud gue, dia cuman…apa ya, sembarangan aja gitu kayaknya anaknya…”

“Cowok itu emang ‘jorok’, kali Liz…” timpal Amel santai. “kalo ada spesies selain kelinci yang bisa jadi lambang Playboy, udah pasti cowok…” tandas Amel dan keduanya pun tertawa.

“Apa lagi coba…?” Eliza menimpali dengan santai sementara Amel mengeluarkan sisa tawanya “Dan kadang dia itu ganggu…,”

“Ganggu but it worth to watch ya, bo ?”

“Pastinya ya,”

“Kenapa lo nggak langsung deketin dia aja sih Liz ?”

Mendengar apa yang dikatakan oleh Amel, Liz hanya terdiam sambil menyeruput cokelatnya yang nikmat itu.

“Udah, tapi…, I’m afraid that he’s goin to beg for more…” ucap Eliza mantap dan untuk pertama kalinya sejak keduanya bercakap-cakap Amel memalingkan wajahnya. “we’ll see lah, ya…”

Keduanya pun kembali tertawa kemudian dan handphone Eliza pun berbunyi.

“Ya ampuuun, siapa sih nih ? ” ujar Eliza dengan enggan melihat sederet nomor yang tidak ia kenali di layar handphonenya. Setelah ragu sejenak, Eliza pun memijit tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut. “Halo…?”

“Halo, malem…Eliza ?” terdengar suara renyah diseberang sana.

“Iya, ini dengan siapa ya ?”

“Ini Hardian…”

“Oh, iya mas…” Eliza baru menyadari bahwa nomor sang penelpon belum tersimpan di phonebooknya. “ada apa ya ?”

Eliza dapat melihat Amel memandanginya dengan tatatapan bertanya tapi Eliza hanya mengangkat alisnya.

“Sorry nih, nelponnya kemaleman. Lagi nyantai kan ?”

“Iya, mas.”

“Saya cuman pengen nanya aja kapan kira-kira kita bisa ketemuan…, ada sesuatu yang pengen saya bicarain tapi kayanya lebih enak kalo kita ketemuan…”

“Oh, gitu…”

“Iya, I give you a clue deh, it’s about media relations sebenernya…”

“OK…,”

“So, kapan nih kira-kira bisa ketemuan ? Bisa di Bandung mungkin atau di Jakarta-, barusan saya abis dari Bandung sih, sebenernya, cuman saya ada urusan jadi nggak sempet ngontak-ngontak.”

“Gini deh mas, saya kan biasanya weekend pulang ke Jakarta tuh. Cuman nggak pasti juga sih. Tapi ntar klo saya lagi nyantai di Jakarta saya kontak mas deh.”

“Oh OK, it’ll be nice. Saya tunggu kabarnya. Thank you ya-, saya manggilnya apa nih, Eliza aja atau…”

“Liz aja mas,”

“OK, Liz. Thanks banget, ya ?”

“Sama-sama mas.”

Setelah saling mengucapkan selamat malam, obrolan singkat itu pun berakhir dan kali ini Eliza pun menyimpan nomor tersebut di phonebooknya.

“Siapa Liz ?” tanya Amel tanpa memalingkan pandangannya dari TV.

“Chief Editornya Statement…”

Kali ini Amel memalingkan wajahnya seperti bertanya sedangkan Eliza tidak memberikan ekspresi yang berarti dan kembali menyeruput cokelatnya.

Selasa, 12 Agustus 2008

3. New Kid On The Squad

Sesuatu terkadang datang dengan dua sisi. Sisi positif dan sisi negatif. Begitu juga Scherer-Gonzalez yang berarti berita bagus karena mendatangkan pemasukan sekaligus juga meeting kedua yang membuat Salma tidak bisa berhenti ngomong untuk mengerahkan semua teori fashionnya bersama Dinda, lalu aku berusaha menelurkan ide-ide yang dapat membantu sementara Dion siap mengerahkan kreatifitas yang dimiliki olehnya untuk menghasilkan sebuah iklan yang sempurna.

“Yang bakalan naik itu kan koleksi spring, so, gue lebih prefer untuk membuat sesuatu yang elegan tapi terlihat liar, kira-kira kayak gitu…” ucap Salma dengan gerakan tangan yang khas dan aku agak kesulitan untuk membayangkannya tapi aku menyukai bagian elegan tapi liarnya itu.

“Gue nggak mau halaman ini kelihatan seperti, ‘ayo beli koleksi kita, harganya segini’. Kita bukan toko. Tapi gue pengen tampilannya lebih berkesan ‘pake barang ini dengan harga segini dan lu akan keliatan lebih cantik.’. Soalnya, kita bukan media untuk ngejual product, tapi kita stylist untuk pembaca…” kataku menyusul ketika pertemuan diruang tengah itu terus berjalan.

Aku senang brainstorm hari itu berjalan dengan sangat baik. Tidak ada yang cemberut, tidak ada yang merasa pemikirannya dibatasi dan secara pribadi aku senang bahwa aku memiliki sekelompok orang yang bisa menjalankan bisnis ini dengan begitu baik.

Sekarang gue negrti. HRD CMK nggak main-main dengan kaki-kaki jenjang dan wajah-wajah cantik yang lolos dari seleksi mereka…

Aku begitu bersemangatnya dan membiarkan Dinda dan Salma untuk mendominasi meeting itu. Tapi tiba-tiba saja Dion berkata dan saat itu rasanya aku seperti diputuskan oleh pacar.

“Kita harus punya fotografer…” ucap Dion disaat suasana sedang menghening dan semua mata langsung tertuju padanya.

“Lho, gue pikir lo fotografernya…” Dinda berkata begitu saja dengan wajah polos sedangkan aku hanya bisa menggerakan kepalaku memandangi Dion.

“Iya…, gue tau,” Dion berkata lambat. “tapi Ric, kayanya alangkah lebih baiknya kalau kita punya fotografer beneran…”

“Jadi lo bukan fotografer beneran…?” Salma memotong kata-kata Dion dengan dingin. Aku dan Dinda pun tertawa untuk menghibur diri.

“Yang profesional. Maksudnya, gue bisa sih, tapi gue cuman takut suatu saat gue nggak menghasilkan sesuatu yang maksimal.” ucap Dion dan kami semua hanya bisa memandanginya.

Setelah kami sempat membahas hasil-hasil pemotretan Dion yang sebenarnya sudah sangat bagus untuk kami, akhirnya keputusan pun diambil. Kami akan merekrut seorang fotografer meskipun untuk sementara ini, Dion lah yang masih memegang jabatan itu sampai kami benar-benar menemukan orang yang tepat.

“Kenapa juga ya, kok gue baru mo dikenalin Paul sama kakaknya aja udah berasa gimanaaa gitu…?” ujar Rahmi sambil menaiki tangga kantor dengan kantong plastik berisi makanan.

“Emang kenapa ? Nggak apa-apa kan ? Atau lo mulai ngerasa ini terlalu serius kali…” timpal Sara yang berjalan bersama dengannya menuju lantai atas.

“Iya kali, ya ? Tapi kan sebenernya biasa aja gitu.” Ujar Rahmi lagi.

“Mungkin gara-gara Paul bilang bahwa you could get along with her sister ?” tanya Sara setengah yakin.

“Nah, itu. Mungkin juga ya. Gue jadi takut juga kalo ternyata gue nggak bisa get along sama kakaknya kan nggak enak juga. Gue bukan nggak enak sama kakaknya, malah nggak enak sama Si Paulie”

“Ya nyantai aja kali, Mi. Gue pikir Paul juga bakalan ngerti kok kalo misalkan ya, ternyata lo nggak bisa get along sama kakaknya.”

“Iya juga sih. Lagian iseng banget sih dia mau mempertemukan gue sama kakaknya…”

“Masih mending lo ketemuan sama kakaknya, kalo langsung sama bokap nyokapnya ?”

“Aduh…, jangan dulu deh. Mau ketemu sama kakaknya aja gue udah begini. Apalagi ketemu sama bonyoknya ?”

Di kantor ini, mungkin juga sama seperti kantor-kantor lainnya, selain sebelum jam kantor dimulai, waktu yang sangat pas untuk memulai cerita-cerita, gosip atau mungkin curhat adalah di jam makan siang. Tapi menurutku, di jam makan siang semuanya terjadi dengan tidak teratur, tidak seperti di pagi hari dan semuanya itu menjadi satu di ruang tengah. Sementara sejak tadi Ronald tampak seru berbincang tentang penemuan koleksi terbaru para disainer dengan Salma, disudut yang lain Eliza membicarakan hal lain dengan Dinda.

“So, lo bertemu dia di tempat obral buku. That’s sounds romantic…” Dinda berkata sambil mengerilngkan matanya pada Eliza.

“Iya, kaya di film-film Hollywood gitu gue bo. Cuman waktu launching gue nggak melihat dia ada di antara tamu-tamu yang lain. Maksud gue mungkin gue ngeliat kali,ya, soalnya mukanya sih familiar, tapi gue nggak terlalu merhatiin juga…” tutur Eliza dingin.

“Tapi kayanya dia merhatiin lo gitu, bo…”

“Kayanya, ya. Dia tiba-tiba nyapa gue aja gitu dengan quote Coelho.”

“O My God, sok romantis gitu sih kalian ?”

“Kita ?” Eliza berkata dengan mimik aneh. “dia yang sok charming. Gue sih bingung aja gitu kok dia bisa mengenali gue dari sekian banyak wajah dengan lampu remang-remang Empire…”

“Ya berarti dia bener-bener merhatiin lo gitu, Liz. Secara lu sering kena blitz juga waktu itu. Eh, terus dia nelpon lo, emang dia ngobrolin apaan ?” tanya Dinda penasaran sambil melahap mie ayamnya.

“Nah itu. Nggak jelas.” Jawab Eliza singkat ikut melahap menu yang serupa sementara Dinda tertawa singkat tertahan. “jadi dia cuman ngomongin tentang marketing majalahnya gitu. Nanya-nanya tugas gue ngapain aja…”

“Terus, cuman gitu doang…?”

“Kayanya dia mau ngajak gue ketemuan, deh bo.”

Dinda pun melemparkan tatapan bertanya pada Eliza yang berkata dengan santai..

“Dia tertarik mau ngerekrut gue sih kayanya…” Eliza pun tertawa ringan.

“Alesan…?” kali ini Dinda mengangkat kedua alisnya.

“Maybe, sort of…” balas Eliza sedikit menggerakan kepalanya.

“OK…” ujar Dinda singkat dan keduanya menikmati makan siang mereka sejenak. “Dengan ‘ke-ce-ngan’ lo itu, gimana ?” lanjut Dinda bertanya sambil sempat mengerling ke arah lain sementara Eliza pun memandangi Dinda dengan tatapan misterius sejenak.

“Giling kalo dia sih…” jawab Eliza dengan wajah cerah.

“Juara ya, bo ?” timpal Dinda dengan mimik jahil.

“Mmm…, juara deh kalo dia sih…” tandas Eliza menggerakan sedikit bibirnya dan Dinda pun tertawa singkat.

Sebelumnya, sebenarnya aku tidak bisa membayangkan bagaimana Amed akan bekerja sama dengan Paul. Melihat mereka berada dalam satu divisi seperti mempertemukan dua dunia yang berbeda. Amed adalah mister dandy wangi dengan polo shirtnya, sementara Amed adalah pemuda klasik berkemeja dengan jaket kulit ala debt collector yang sangat peduli akan motor.

Lucunya, gue nggak nyangka kalo ternyata mereka itu cuman beda di tongkrongan doang. Jadi, harapan gue untuk membuat Amed lebih ‘behave’ pupus lah sudah.

“Jadi lu ketemuin si Rahmi sama kakak lu, Pol ?” tanya Amed dengan saepiring nasi rames ditangan sementara tangannya yang lain berada di atas mouse sementara komputer dihadapannya emnampilan permainan billiard.

“Iya. Urang pengen banget dia kenal sama kakak gue euy…” jawab Paul sambil melahap nasi rames dengan menu berbeda.

“Emang kenapa gitu ?” tanya Amed lagi lalu membiarkan Paul mengambil alih mouse dari tangannya.

“Ya nggak apa-apa sih, biar kenalan aja…duh, teu kena euy…” sahut Paul sambil asik dengan permainannya. “pengennya sih gue kenalin sama bokap-nyokap gue…”

“Biar lu keliatan serius sama dia ya ?”

“Yaaa…, iya sih…” jawab Paul ragu lalu mengambilakn mouse pada Amed. “gue belum pernah pacaran serius…” tambah paul dengan setengah suara dan Amed pun langsung memandangi rekan satu divisinya itu.

“Wah, parah maneh…” komentar Amed dan perhatiannya kembali tertuju pada komputer.

“Bukan gitu. Gue emang belum pernah ketemu cewek yang bisa gue ajak serius, Med. Ngerti pan maneh ?” sambut Paul membela diri.

“Jadi caritana ayeuna maneh serius yeuh ?” Amed berkata dengan setengah bercanda.

“Yaaa…, pengennya sih, gitu. Memulai untuk serius lah, mencoba…”

Anjir, gaya euy si eta, kawin atuh…”

“Kawin sih, udah Med, sekarang mah nyari yang mau dinikahin…”

“Goblok maneh…”

“Hai, lagi pada ngapain ?” tiba-tiba suara Shanty memecah obrolan Amed dan Paul.

“Hei Shan…” sapa Paul pada Shanty yang berdiri santai di depan pintu.

“Eh, Shanty, masuk Shan…” ujar Amed ikut menyapa dan petugas front office Alive! itu pun melangkah masuk.

“Wah, lagi pada maen game ya…?” ujar Shanty dengan suara nyaringnya.

“Iya nih, biasa…” timpal Amed.

***

Ternyata aku sekarang sudah mulai terbiasa untuk tampil mengenakan baju-baju yang sebelumnya aku anggap ‘mengganggu’. Aku adalah tipe orang yang hanya berstelan rapi untuk menghadiri sesuatu yang resmi, tapi sekarang, aku berpakaian seperti itu hampir setiap hari.

Dan kadang-kadang gue masih sering berlama-lama di depan kaca cuman gara-gara mikirin apa bedanya jaket sama jas…

Berkat dukungan para ahli fashion Alive! sekarang aku juga lebih bisa memadu madankan pakaian yang akan aku kenakan tanpa takut mengenakannya dengan salah meskipun tetap saja mendapatkan perhatian yang lebih dari Salma.

Dan saat itu aku keluar dari rumah tanpa ada lagi celetukan dari Steven seperti ‘Si kakak rapi mulu…’ atau ‘cieh, wangi amat kak…’ karena mungkin sekarang dia sudah mulai mengerti dengan apa yang harus aku lakukan atau mungkin karena ia terkena dampak positifnya yaitu beberapa pakianku bisa ia pakai sekarang.

Aku baru saja memanaskan motor ketika handphone yang menyimpan cerita dibalik keberadaannya tersebut berbunyi. Senang rasanya mendengar handphoneku bisa berbunyi lebih baik dari sebelumnya. Aku seegra meraih handphone yang terselip dalam –aku lebih suka menyebutnya jaket meskipun Steven ngotot bahwa aku pakai jas setiap hari- saku jaket tersebut. Aku bisa melihat sederet nomor tak dikenal dan emmilih untuk menjawabnya.

“Halo…”

“Halo, Mas Rico ya ?” terdengar suara yang agak dalam.

“Iya betul,” jawabku segera.

“Saya Raya, Pak Chris nyuruh saya untuk ketemu sama Mas Rico…” tutur suara dalam itu dan aku langsung mengerti siapa yang mengubungiku itu.

“Oh iya, fotografer bukan ?” tanyaku sok tahu.

“Iya bener mas. Kebeneran saya ada perlu di Bandung jadi mungkin sekalian aja saya ke kantor Alive! atau gimana, terserah Mas Rico…”

“Boleh, boleh. Langsung dateng ke kantor aja…”

Setelah memastikan Raya lokasi kantor, pembicaraan di telepon itu pun berakhir. Aku bisa merasa lega masalah potret-memotret ini bisa cepat diatasi dan langsung menyimpan nomor itu di dalam phonebook.

Raya Alive!

Dinda itu adalah tipe cewek ayu yang senang tampil anggun juga elegan dan ia terlihat mature. Tapi Salma, lain lagi. Dia sebenarnya bisa saja tampil seperti Dinda atau sepolos Devy karena dia memang bisa jadi siapa saja. Sementara Eliza, Salma saja mengakui bahwa cewek satu itu memang hot. Jadi wajar saja kalau Liz adalah yang paling rajin memakakai baju dengan menunjukan dada, punggung dan kakinya. Jangankan membicarakan penampilan para pengamat fashion itu. Mbak Shinta, satu-satunya staff perempuan di kantor yang mengenakan kerudung saja menurutku penampilannya tidak kalah dengan yang lain.

Aku, jangan ditanya. Sebelum akhirnya Pak Chris menetapkan peraturan harus berpakaian rapi, Eliza mungkin merasa agak terganggu dengan t-shirt Machine Head-ku yang tampak seperti t-shirt murahan yang sok seram. Amed…

Gue udah nyebut jaket kulitnya yang bikin dia jadi kayak debt collector kan ? Sementara Dion sudah sering diteriaki ‘Dion, kok lo langsing banget sih?’ oleh Mbak Shinta dengan kemeja-kemeja bermodel vintage-nya yang membuat Devy berhenti melangkah waktu melewati Dion. Mungkin dari semua staff cowok Alive! hanya Paul dan Ronald lah yang memiliki penampilan yang ‘lebih pantas’ untuk dilirik.

Sementara Ronald kayanya merasa lebih nyaman dan colied dengan cewek-cewek…

Jadi wajar-wajar saja sepertinya kalau Devy yang saat itu baru saja menyeduh kopi hitam yang jadi favoritnya langsung berhenti terdiam di depan pintu dapur, sambil memperhatikan cowok berpenampilan lebih sinting dandy-nya daripada Paul, melangkah ditemani oleh Vivi di ruang tengah kantor. Cowok berstelan kemeja hitam tangan panjang yang digulung dengan celana hitam itu tersenyum manis sambil mengangguk tanda hormat pada Devy menambah efek segar yang ditampilkan oleh rambut basahnya. Dan baru saja laki-laki itu melangkah menuju pintu ruangan redaksi, dengan berjingkat-jingkat semangat, Devy langsung memburu masuk ke ruangan marketing dan PR. Melihat Devy yang sekonyong-konyong berdiri dengan mata yang berkilat-kilat, suara-suara riang yang sebelumnya terdengar dari luar itu langsung mereda dan semua mata tertuju padanya.

“Ada cowok ganteng masuk ke ruang redaksi…” ucap Devy datar setengah panik.

“Siapa ? Rico…?” ucap Ronald polos tanpa dosa yang langsung mendapat tatapan jahat dari sesisi ruangan tersebut.

Gue nggak tau musti berterima kasih atau malah harus mulai menjaga jarak dengan Ronald…

Dua hari yang lalu aku sempat membahas tentang masalah fotografer dengan Mbak Shinta, karena aku menganggapnya selaku salah satu founder Alive!, aku perlu bertanya padanya yang ternyata menyerahkan seluruh otoritas masalah juru potret itu padaku.

“Mbak, kayaknya kita butuh fotogafer baru…” kataku pada Mbak Shinta

“Lho ? Emang si Dion kenapa, cuy ?” tanya Mbak Shinta bingung memandangku penuh tanya dan aku menjelaskan kenapa orang yang mustinya fotografer Alive! malah mengusulkan untuk merekrut seorang fotografer.

“Kalo gue sih, mbak, seperti kata Dion, demi hasil yang maksimal alangkah lebih baiknya kalo kita emang ngerekrut fotografer profesional aja.”

“Ya itu kan areanya lo sih, sebenernya. Tugas gue kan memastikan klien gue puas sama hasil penggarapannya kalian. Yang jelas gue ngedukung klo lo mau ngerekrut fotografe pro. Jadi keputusannya ada di tangan lo.”

Setelah mendapat kepastian dari Mbak Shinta yang jadi agak khawatir suatu saat hasil pemotretan iklan akan tampak kurang bagus, aku pun segera mengubungi bos besar untuk membicarakan hal tersebut.

“Ya udah, Ric, kalo menurut lo ini urgent, gua kasih fotografer satu deh buat di Bandung, eh-, lu butuh berapa orang Rick ?”

Gue juga sebenarnya nggak nyangka kalo Pak Chris bakalan ngerespon kebutuhan redaksi secepet itu.

Pagi itu sekitar jam 10 kurang, hampir semua kepala orang yang berada di ruang redaksi menjadi kaku memandang ke arah pintu ketika Vivi datang bersama seorang laki-laki yang membuat mata Salma menatapnya lekat dari atas sampai bawah. Waktu Vivi menghubungiku dan bilang bahwa seseorang bernama Raya datang untuk menemuiku, sebenarnya aku berharap akan bertemu dengan seorang laki-laki berperawakan tinggi besar, minimal memakai polo shirt dengan jaket keren, bergaya agak sembarangan dan membawa tas kecil berisi kamera.

Ternyata yang sesuai dengan bayangan gue cuman tas kameranya aja.

Teuku Araya Andalasakti nama lengkapnya. Dia adalah seorang yang tinggi atletis berkulit tidak terlalu putih, memakai kemeja body fit, wajahnya ramah dan dia memang terlihat tampan. Dia tidak memiliki gaya yang sembarangan, tapi memang terlihat sangat santai dengan wajahnya yang tampak berseri-seri dan menyebut dirinya ‘aku’.

“Kemaren Pak Dana sih yang ngasih tau aku. Pak Chris butuh fotografer untuk di Bandung. Pak Dana nawarin sama aku, pikir-pikir, wah boleh juga nih di Bandung, jadi aku iyain aja…” tutur Raya dan sepertinya dia memang tipe orang yang senang tersenyum.

“Iya, tadinya Dion,” kataku sambil menggerakan kepalaku ke arah Dion. “disainer grafis kita yang jadi fotografer juga. Tapi kemaren dia sendiri yang minta, mending ngambil fotogrfer profesional aja deh, katanya, jadi gue minta sama Pak Chris…”

Setelah kami berbasa-basi sejenak dan menjelaskan sedikit tentang Alive!, aku pun memperkenalkan Raya pada semua staff mulai dari yang berada di ruang redaksi sampai Deni. Sudah bisa ditebak kehadiran Raya pagi itu memang cukup menyedot perhatian cewek-cewek yang langsung mengomentari keberadaannya.

“Si Rico minta fotografer apa minta fotomodel ya sama Pak Chris ?” canda Mbak Shinta di ruangannya yang langsung disambut tawa oleh yang lainnya.

“Mungkin Rico ngomongnya nggak jelas, ceu, yang kedengeran cuman fotonya, terus Pak Chris ingetnya kan Alive!, oh, fotomodel kali, jadi dikirmlah si Raya itu kesini…” celetuk Ronald yang kembali disambut tawa.

“Jangan-jangan pengalamannya lebih banyak dipotret lagi daripada motret…” tambah Miranda yang semakin memancing celetukan-celetukan dan canda tawa di ruangan tersebut.

Raya sebenarnya adalah fotografer untuk Majalah Escalade, sebuah majalah laki-laki yang juga berada di bawah bendera CMK dan kebetulan dia memang salah satu fotografer terbaik yang juga sering dipakai oleh beberap majalah milik CMK lainnya selain Escalade. Siang itu ia datang untuk sekedar mempelihatkan portfolionya dan pastinya untuk berkenalan dengan crew Alive! selain ternyata kebetulan hari itu ia juga memiliki tugas pemotretan di Bandung. Aku pun harus mengatur segala sesuatunya. Sekarang Dion hanya akan bertugas sebagai fotografer untuk peliputan atau pemotretan ‘ringan’ lainnya. Sedangkan untuk pemotretan seperti cover, iklan dan semua pengambilan gambar yang dianggap penting, akan diserahkan pada Raya yang memang masih akan bolak-balik Bandung-Jakarta. Setelah sempat iseng memainkan kameranya dan makan siang bersama-sama, staff baru Alive! itu pun harus menjalankan tugasnya lalu kembali ke Jakarta dan ia berjanji akan kesini lagi lusa nanti.

“Akhirnya ada cowok yang bisa dilirik di kantor ini…” komentar Salma dingin yang disambut oleh tawa pelan riang cewek-cewek.

Salah satu peraturanku pada saat pulang kerja adalah, menanggalkan pemikiran-pemikiran tentang apa yang harus dilakukan dengan halaman-halaman Alive! di tempatnya dan mari mulai memikirkan cara yang kejam untuk mengalahkan Steven di Halo.

“Kak Ric, makan…” sambut Nina dari kamar makan begitu aku melangkah masuk melalui pintu rumah.

“Iya Na…,” sahtuku singkat.

“aku bawain ayam kodok nih…”

OK, kayaknya gue juga harus mikirin gimana caranya ada cewek lain yang ngebawain gue ayam kodok buat gue selain gila-gilaan main X-Box dengan Steven.

Aku sudah memikirkannya setengah mati kadang-kadang, tapi memang saat ini aku belum beruntung untuk bisa seperti Steven membawa calon dokter gigi berpenampilan seperti model ke rumah dan baru pulang esok harinya. Bahkan Nina saja sudah sempat berbaik hati dengan beberapa kali bertanya padaku kira-kira aku ingin dikenalkan dengan perempuan yang seperti apa.

“Firly tuh baik lho, Kak, anaknya,” ujar Nina agak memperomosikan salah satu temannya yang makan malam bersama dengan kami kemarin.

“Oh ya ? Tapi dia terlalu imut, ah, Na…” jawabku santai setengah serius.

“Tapi iya sih, kayanya kurang ‘klik’ kalo sama Kak Ric. Anaknya ayu banget gitu…” tambah Nina.

“Kak Ric tuh kayanya cocok sama Melisa, yang,” sekarang giliran Steven menyebutkan nama salah satu temannya.

“Melisa yang mana ?” tanyaku.

“Oh iya…, ada, temennya dia nih,” Nina berkata semangat lalu menunjuk pada Steven. “Ah, tapi Melisa kan udah punya cowok, emang Kak Ric suka yang tinggi-tinggi gitu ya ?”

“Pokonya gue suka yang kakinya bagus deh…” tandasku kembali setengah bercanda.

“Yah, kak Ric sih, ngeliat dari kakinya doang…” protes Steven sementara aku tercengir.

Membicarakan kaki yang indah, aku tahu seseorang yang menurutku memiliki sepasang kaki yang cantik. Aku berusaha menahan untuk tidak terlalu sering mengontak Milla tapi kemarin malam kami sempat saling berbalasan SMS panjang dan aku berhasil membatalkan niatku untuk menelepon fashion editor Putri tersebut.

Dan sekarang gue malah keingetan sama dia terus…

Setelah makan malam dengan menu buatan ibunya Nina yang lezat itu, seperti biasanya kami pindah ke ruang tengah dan mulailah terkapar dengan sukses. Aku meraih handphoneku dan hanya memandangi wallpaper animasinya yang lama-kelamaan seperti menghipnotisku.

Inget terus…

Ada keraguan dalam hatiku saat itu untuk melakukan sesuatu dengan alat komunikasi canggih pemberian…sudahlah…

Terus…

Lucu, aku bisa merasakan ada sesuatu yang tidak juga terlalu benar dengan hal ini, tapi akhirnya aku harus mengakui…

Gue kangen Milla…

Dengan pasti aku pun menjelajahi phonebook hingga ke huruf M dan segera memanggil salah satu nomor yang ada disitu yang dengan cepat dijawab oleh sang pemilik nomor tersebut.

“Hai…,” aku bisa mendengar suara Milla diseberang sana.

“Hei, gue ngengganggu nggak ?”

“Gue baru mau SMS lo…”

Jumat, 08 Agustus 2008

2.Reallytionship


Mungkin ada orang yang ingin menjaga kantornya sedemikian rupa supaya senantiasa terjalin hubungan yang harmonis dan romantis antara sesama pegawainya. Aku pernah melihatnya disuatu tempat sekali. Dan jika ada orang yang bertanya padaku, ’apakah kamu menjalankan bisnis ini dengan sistem kekeluargaan ?’ pastinya aku akan menjawab ‘tidak.’ Aku bukan pendukung sistem yang disebut kekelurgaan. Lalu kalau orang sampai bertanya lagi, ‘terus kenapa para stafmu selalu bebagi tawa dan berpelukan satu dengan yang lain ?’. Mungkin aku akan menjawab, ‘oh, mungkin staff yang berbagi tawa itu punya terlalu banyak tawa dan berpelukan itu banyak artinya, mungkin mereka adalah pasangan atau sesama supporter tim sepak bola tertentu.’. OK, cukup dengan retorikanya. Aku lebih suka menyebut sistem yang aku anut di kantor ini adalah pertemanan atau persahabatan mungkin. Itu lebih terdengar enak untukku. Aku selalu menganggap bahwa sistem kekeluargaan selain dalam keluarga terdengar terlalu hirarkis. Singkatnya, jadilah seorang teman yang baik. Saling menghargai tanpa harus diingatkan, berbagi tanpa harus diminta dan kita semua disini ada untuk bekerja, maka dari itu jadilah seorang pekerja yang baik bersama-sama dengan teman-temanmu. Kira-kira seperti itulah Alive!. Sejauh ini, aku tidak melihat ada staf yang tampak berseteru satu dengan yang lain malahan Paul dan Rahmi sepertinya jadi dua orang pertama yang bisa meraskan betapa mesranya hubungan antar staff di Alive!.

Paul adalah seorang cowok metro sexual yang baru aku sadari bahwa sebelum teman-temanku merubah penampilanku, dia sudah tampil penuh gaya lebih dahulu dengan kemeja Armani atau polo shirt Neil Barret-nya.

Waktu pertama tau bahwa Paul seperti itu gue agak geli juga. Tapi sekarang mau nggak mau gue nggak ada bedanya sama dia…tapi sekali lagi ini semua demi memenuhi kepentingan pasar.

Lucunya, aku juga tidak menyangka sebelumnya kalau dia ternyata lebih memilih Rahmi seorang cewek manis berambut pendek berpenampilan tidak terlalu girlie.

Gue bahkan bisa menyebut Gaultier lebih bagus daripada dia…

Sebelumnya banyak yang berpikir bahwa Paul akan lebih menyukai cewek-cewek seperti Salma atau Eliza karena sebelumnya dia tampak cukup dekat dengan sang Miss Marc Jacobs tapi ternyata dia lebih menyukai cewek yang senang blog surfing daripada mengamati orang-orang berpakaian.

Perbedaan keduanya bisa terlihat pagi itu, sementara Rahmi masih bersembunyi dibalik selimutnya, Paul sudah berjoging untuk membakar lemak supaya bentuk tubuhnya tetap terlihat prima. Setelah melakukan pendinginan dan sempat memamerkan senyum ramah pada para tetangga –mungkin suapaya orang-orang di tempat kos itu juga tetap ramah padanya yang sering bermalam disitu- Paul pun masuk ke dalam kamar kos nyaman yang cukup besar itu dan mulai bermain Sleeping Beauty.

“Morning…,” ucap Paul sambil mengecup pipi Rahmi.

“Morning…” balas Rahmi yang sepertinya masih enggan untuk menyingkapkan selimutnya. “…jam berapa sih…?” celetuk Rahmi dengan suara berat dan lambat sementara matanya belum sepenuhnya terbuka.

“Jam tujuh…” balas Paul yang segera meraih sekotak susu kedelai UHT dari lemari es.

“Ooo…, masih boleh tidur setengah jam lagi dong…” ucap Rahmi dengan setengah suara lalu hanya merubah posisi tidurnya dan berusaha kembali terlelap.

“Kaka aku mau ke Bandung…” Paul berkata sambil membuka atasannya lalu meneguk susu kedelainya sambil melompat ke atas tempat tidur. Seperti yang Paul perkirakan sebelumnya, sekarang pacarnya itu membuka matanya lebar-lebar.

“Kapan…?” tanya Rahmi memicing kesilauan karena cahaya matahari pagi yang mulai masuk ke dalam kamarnya.

“Besok lusa, aku kenalin kamu sama dia, ya…?”

“Iya, iya…, it’ll be nice…”

“Dia mirip-mirip kamu. Nggak terlalu kutu buku juga sih…”

“Kutu buku…?” ucap Rahmi merapatkan kepalanya ke dada Paul.

“Ya entar kamu kenalan sendiri deh, sama dia. Kayanya kalian bakalan bisa get along…” ujar Paul sambil membelai kepala Rahmi yang masih berusaha terus terlelap. ”Bangun, yuk, mandi…” ucap Paul dengan mesra dikuping Rahmi lalu beranjak dari tempat tidur.

“Masih jam 7, biasanya juga kan mandi jam 8, masih lama…” timpal Rahmi bermalas-malasan.

“Ya udah kalo gitu, tidur lagi aja…” ucap Paul sekarang sambil membuka bawahannya lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Rahmi yang kini matanya tampak lebih cerah agak membelalak.

“Paul…?”

“Iya…?”

“Masih ada tempat nggak buat 5 menitan lagi ? 3 menit deh-, 2…!”

“Kayanya kamar mandinya lumayan lega nih…”

Rahmi pun tertawa sambil menyibakan selimut yang membungkus dirinya hingga setengah badan tersebut.


Dion itu adalah versi antagonis dari Paul. Waktu Paul bangun untuk membuat petak-petak di perutnya yang rata, Dion pastinya masih ada jauh di dalam mimpi. Dia biasa bangun jam 8 pagi tepat satu jam sebelum jam masuk kantor, hanya saja dia memang mampu untuk mandi paling hanya 5 menit saja tanpa mengurangi banyak air di bak mandi dan sarapannya adalah teh manis panas dan sebatang rokok plus gorengan yang ia beli di pinggir jalan. Pagi itu dengan santainya Dion meluncur dengan bebek matic putih barunya itu menyusuri daerah Cipaganti sambil asik menikmati gorengannya. Begitu ia tiba di belokan menuju ke Setiabudi, sesosok cantik tinggi semampai dalam balutan one piece dengan motif batik tampak melambai-lambaikan tangannya pada Dion yang langsung menepi menghampiri.

“Lho, tumben lo nggak bawa mobil…” sapa Dion pada Sissy yang yang langsung menyambut Dion dengan senyum meriah.

“Iya, mobil gue dipinjem adik gue, yang satu lagi dipake nyokap…” tutur Sissy yang sempat membuat Dion agak terhenyak. “Sekalian kali-kali naik angkot. Tapi gila, masa gue dari rumah sampe sini aja udah 45 menit coba ? Terus nungguin angkot dari tadi penuh-penuh…”

“Iya, lah, pagi-pagi kayak gini…” timpal Dion memastikan.

“Eh, lo bermaksud memberikan gue tumpangan kan bo ?” tanya Sissy dengan nada bercanda sementara Dion dapat melihat sepasang mata yang berbinar jenaka.

“Eh iya nih, gue buru-buru, sampe ketemu di atas ya…,” canda Dion dan Sissy pun langsung membalas menegur.

“Nggak sopan, baik banget deh lo klo ninggalin gue disini…”

“Hehehe, Udah ayo, naik aja…” ajak Dion dan Sissy pun semakin tersenyum manis. ”Untung aja gue lewat sini…” tambah Dion saat Sissy naik ke atas motornya.

“Emang lu biasa lewat mana ?”

“Biasanya juga lewat sini sih, hehehe…” canda Dion dan telapak tangan Sissy pun mendarat di helm Dion dan mendorong kepalanya. “Aduh…”

“Gue udah takut terlambat aja tadi…” keluh Sissy.

“Lagian kalo naik angkot sih musti spare waktu…, eh, sarapan Sy…?” ujar Dion menawarkan gorengan yang tergantung di stang motornya.

“Emang lo bawa apaan ?” tanya Sissy langsung karena merasa aneh temannya itu sempat menawarkan sarapan padanya.

“Gorengan…”

“Waaah, tampak enak kayanya…”

“Mau ?”

“Boleh…”


Suasana kantor pagi itu tampak cerah. Saat itu kami sempat menumpuk di front office untuk sekedar ngobrol ngalor ngidul gara-gara Amed yang terlibat obrolan penting tak penting dengan Shanty sedangkan aku akhirnya ikut stuck disitu karena Dinda datang dan kami mulai ikut ngobrol sementara Mbak Shinta yang sempat terlibat obrolan bersamaku dan Dinda akhirnya memojok dengan teleponnya.

“Gimana hasil launching kemaren Shin ? Ada kabar baru apa nih ?” tanya suara diseberang ketika Mbak Shinta sudah mulai lagi melakukan hubungan telepon yang selalu aku curigai itu adalah seseorang yang tengah dekat dengan Mbak Shinta.

“Udah mulai ngasih dampak yang bagus Mas. Distribusi sih bilang dibeberapa drop point di Bandung udah mulai cepet abisnya, di Jakarta juga gitu. Malah ada pembaca yang sampe nelpon minta supaya langsung dianter ke rumah aja katanya gara-gara takut keabisan.” ujar Mbak Shinta menjawab pertanyaan orang yang meneleponnya tersebut.

“Wah bagus dong ya ? By the way kerjaan kamu sendiri gimana ?”

“Ya alhamdulillah, Mas. Dari sejak launching semuanya udah lancar-lancar aja. Udah ada iklan yang masuk buat beberapa bulan ke depan kan, jadi sekarang aku nyantai-nyantai aja…”

“Oh, iya, syukur deh kalo semuanya lancar-lancar aja…”

“Kapan ke Bandung mas ?”

“Rencananya sih kayaknya besok-besok, Shin. Tapi baru rencana lho ya,”

“Ada yang kangen nih…”

“Oya…?”

“Majalah Season itu ternyata cukup bagus lho, bo. Maksud gue, gue pikir kan tadinya mereka tuh majalah katalog biasa aja gitu, ternyata lumayan juga…” tutur Dinda padaku sambil sibuk dengan lumpiah basah yang menjadi sarapannya.

“Nah, itu. Makanya gue nggak mau halaman katalog tuh jadi keliatan banget katalognya…” timpalku tapi kemudian obrolan kami pun terpecah oleh Amed yang mengomentari kedatangan Dion bersama-sama dengan Sissy.

“Wah, sirkus ini mah, orang-orangan sawah ngebonceng supermodel…” celetuk Amed yang membuat semua orang tertawa tapi belum sempat kami berkomentar lebih lanjut pada Dion dan Sissy yang baru saja melalui pintu kaca kantor, Sissy memberikan tanda bahwa kami harus tenang dengan hanpdhone ditelinganya. Akhirnya gunjingan yang sempat akan dikeluarkan pun tertahan dibibir masing-masing.

“OK, OK…, thank you ya mbak, pagi…” terdengar Sissy mengakhiri pembicaraaanya dan semua orang memperhatikan apa yang akan ia katakan. “Scherer-Gonzalez, mereka mau empat halaman semi katalog…” keriuhan pun segera menyambut apa yang diucapkan oleh Sissy tersebut.

“Duh, cakep banget sih lo, Sy…?” ujar Mbak Shinta memuji.

“Ric, mereka mau kita yang bikin iklannya. Temanya sih dari mereka dan kayanya kita musti pake model-model pro terus…”

“Art-nya musti yang keren banget…” sambungku sambil memandang pada Dion yang mengerutkan dagu sementara Sissy mengangguk-angguk. “OK kalo gitu, redaksi, kreatif, marketing, meeting jam 10.” Ucapku sambil melangkah beranjak dari area front office diikuti yang lainnya.

Aku tahu, seseru-serunya kami berkumpul di front office, ruang tengah alias ruang meeting memang tetap menjadi tempat favorit untuk berkumpul mungkin karena sofanya yang memang sangat nyaman untuk diduduki. Dan Mbak Shinta pun akhirnya membuka rahasia bahwa ternyata satu set perangkat santai itu dibeli dari sebuah galeri interior terkenal di Jakarta.

Dan Salma pernah nginjek-injek sofa beserta mejanya itu cuman gara-gara gue memutar Royksopp. Untung aja nggak apa-apa. Sebenernya sih, ‘untung Salma’, coba kalo Ronald ?

“Dia pengen gue ketemu sama kakaknya…” Rahmi berkata sambil duduk hampir berselonjor di sofa ruang tengah kantor lalu mengehembuskan asap rokoknya.

“Ya bagus dong, berarti dia pengen lo kenal sama keluarganya…” timpal Sara.

“Kalo kata gue sih Mi, itu berarti Paul serius.” tambah Devy. ”Maksud gue, kan ada tuh orang yang kayanya nggak mau ngenalin dulu pacarnya sama keluarga. Alesannya belum siap padahal mungkin dia nggak yakin aja, kaya gue dulu.” Tandas Devy dingin sehingga membuat Rahmi dan Sara tertawa.

“Ya justru itu, karena ini terdengar serius…” ujar Rahmi tercengir.

“Lo jadi males ?” serobot Devy segera dan Sara pun kembali tertawa.

“Nggak sih. Bukan kaya gitu, tegang aja gue,” sambung Rahmi.

“Ya ampun Mi, cuek aja kli, bo. Baru kakaknya ini…” timpal Sara.

“Tapi sebenernya, gue juga pengen ngenalin Paul sama bonyok gue sih…soalnya gue gitu, pacaran tapi nggak nagsih tau bokap-nyokap berasa gimana, gitu…” ucap Rahmi lagi.

“Terus, lo juga mau ngasih tau kalo Paul suka nginep di kosan lo ?” tanya Devy dengan polos dan Sara pun tertawa tertahan.

“Ya nggak lah, gila aja! Bisa dideportasi gue nggak boleh balik-balik lagi ke Bandung ntar…”

“Morning…” sapa Eliza yang baru saja datang kemudian langsung menggabungkan diri dengan teman-temannya di ruang tengah.

“Eh Liz, gimana, lo jadi di wax ga v areanya ?” tanya Devy penuh semangat tepat disaat aku melintas disitu sementara Sara dan Rahmi pun langsung tertawa.

“Kenapa sih kalian selalu ngomongin bulu pagi-pagi…?” celetukku iseng agak dingin.

“Nggak, mau gue biarin gondrong aja…” tiba-tiba Eliza bekata menjawab pertanyaan Devy dengan senyum tipis tanda menggoda padaku.

“Gosh…” celetukku dengan tawa pelan.

“By the way Ric, itu rambut bukan bulu, lho bo…” Devy berkata dengan semangat sementara Sara, Rahmi dan Eliza pun tertawa.

“Iya, iya…” tandasku mengalah sambil melanjutkan langkah ke ruang redaksi.

Sebenernya sih gue nggak terlalu peduli dengan obrolan itu, tapi ngendengar Liz mengaku tentang apa yang ada ditubuhnya…yah, namanya juga cowok…hehe…

Untuk sesaat ruang tengah semakin seru ketika rombongan dari bawah naik ke atas. Obrolan ngalor-ngidul yang ada dilantai bawah kini berpindah kemudian Eliza yang juga tengah asik berbincang-bincang terpecahkan oleh bunyi handphonenya. Dahi Eliza berkerut melihat sederet nomor yang tidak ia kenal sebelumnya itu sebelum ia kemudian menjawabnya.

“Halo, pagi…” suara dalam Eliza menyapa.

“Pagi, dengan Eliza ya ?” terdengar suara yang cukup charming diseberang sana.

“Iya betul,”

“Saya Hardian…, dari Majalah Statement, masih inget kan ?”

“Owh, iya…”

“Saya ngeganggu nggak ? Soalnya mustinya sih ini sambil minum kopi bareng, ya, tapi berhubung kita beda kota jadi lewat telepon aja, nih. Nggak apa-apa kan ya, saya ajak ngobrol bentar ?”

“Oh, nggak apa-apa kok mas…”

“OK,”

Rupanya Eiza yang harus menerima telepon membuat beberapa teman-temannya yang lain untuk beranjak dari sofa nyaman nan mahal tersebut ke tempat mereka seharusnya. Kadang-kadang aku berpikir bahwa Miranda adalah orang yang terlalu serius dengan apa yang ia kerjakan. Tapi aku juga mengakui bahwa cewek yang sering memasang mimik tidak kalah dinginnya dengan Eliza ini memang adalah seorang pekerja yang baik. Begitu tiba di mejanya, dengan rokok ditangan ia pun langsung menyalakan komputernya lalu memeriksa post it yang menempel cukup banyak di dinding kubikelsnya. Ia seperti berpikir sejenak sampai akhirnya suara nyaring yang berasal dari Yahoo messenger membuat ia bergeming.

hardian_sugiono: pagi mir

hardian_sugiono: long time no see…

hardian_sugiono: ?

Miranda pun langsung tersenyum lepas melihat tampilan di layar komputernya tersebut dan jarinya yang lentik pun langsung menari-nari di atas keyboard dengan riangnya.


***


Sore itu Honda Jazz berwarna merah muda milik Ronald terparkir diantara sekian banyak mobil yang terparkir di Cihampelas Mall. Pemiliknya pun keluar dengan langkahnya yang, gemulai. Padahal penampilan PR officer Majalah Alive! itu sebenarnya cukup bisa mencuri perhatian para perempuan tapi Ronald memang bukan tipe laki-laki yang seperti itu. Ketika sepatu Boss tersebut melangkah dibawah warna-warni lampu mall, bahkan sempat mencuri lirikan beberapa laki-laki, handphone Ronald pun berbunyi dan dengan cekatan ia meraih handphone yang berada di dalam saku bajunya tersebut.

“Halo bo…” sapa Ronald setelah mengetahui siapa yang menghubunginya.

“Lo dimana ?” terdengar suara seorang perempuan bertanya dari seberang.

“Eyke udah di Cimal ni ceu…, emang eyke si Firza, yey, ratu ngaret…, lo udah di Shaga kan nih ? OK…, OK, tunggu aja ya, dah nek…”

Ronald pun meneruskan langkahnya menuju sebuah restoran bertingkat yang ada di mall tersebut. Begitu ia tiba di tingkat atas, Ronald segera datang menghampiri beberapa orang yang sudah berkumpul disebuah meja disitu.

“Hai, …” sapa Ronald pada orang-orang yang berkumpul disitu dan ia punlangsung disambut meriah oleh beberapa laki-laki dan perempuan yang ada disitu.

“Eh Nald, kenalin nih temen-temen gue.” Ghya sahabat Ronald pun mengenalkan Ronald pada dua laki-laki yang baru saja Ronald lihat. “Ini Faldy sama adiknya Ivan.” Kedua orang yang diperkenalkan oleh Ghya pun segera menjabat tangan Ronald. “Ronald nih PR-nya majalah Alive !”

Untuk sesaat Ronald pun hanyut dalam obrolan bersama dengan teman-temannya. Itulah Ronald, dia lebih dari seorang penceria yang baik, karena ia benar-benar pintar menempatkan dirinya.

“Nald, katanya lo mau ngenalin gue sama editor lo ?” celetuk Davina salah satu teman Ronald bercanda.

“Ya maen-maen lah ke kantor gue, yey…” sahut Ronald.

“Editor lo cewek-cowok ?” celetuk Faldy bertanya dengan senyum berusaha untuk mengakrabkan diri.

“Cowok,” sambar Ghya menjawab. ”Eh, by the way, chief editor lo…” teman Ronald itu berkata menggantung.

“Straight, hunny. Completely straight…” Ronald berkata tegas. “Dia orangnya biasa banget kok, maksud gue dia bukan orang fashion sebenernya, cuman emang dia pengalaman megang majalah gitu…” jelas Ronald singkat.

“Kalo kata gue cowok yang kerja di bidang fashion itu…, apa ya…? Menurut gue…it’s kinda…sexy…” ujar Faldy berkata dengan mimik tenangnya yang charming pada Ronald sambil tersenyum sementara Ronald membalas dengan senyuman tipis manisnya.

“It is…” Ghya pun mendukung apa yang diucapkan Faldy yang berpandang-pandangan sejenak dengan Ronald.

“Sori ya, Ion, gue jadi ngerjain lo nih…” ujar Sissy yang dibonceng oleh Dion.

“Besok jangan lupa bawa mobil, Ya Sy,” canda Dion yang langsung mendapat kelitikan tepat di rusuknya. “Adaw ! Heh…, jangan main-main, lagi ditengah jalan ini…”

“Ya kan gue juga nggak tau kalo temen-temen gue mau ngajak ketemuan…” ucap Sissy dengan nada agak memanja.

“Tapi sori ya Sy, kalo lo jadi agak-agak masuk angin ato pantat lo pegel…” canda Dion kemudian keduanya tertawa.

“Paling kentut-kentut gue…” celetuk Sissy yang tertawa pelan.

“Wah, justru itu yang tidak dikehendaki…” balas Dion ikut tertawa.

“Nyantai aja kali, Ion. Sama-sama Honda kan ?” ujar Sissy lagi dan keduanya kembali tertawa diatas Vario Dion yang terus meluncur.

Agak lucu memang dan Dion mungkin merasakannya. Seorang Sissy yang biasa datang dengan Maestro-nya bahkan bila dia diantar jemput pun sampai saat ini tidak pernah terlihat ia datang atau pergi tanpa mobil. Tapi sore itulah telihat bahwa Sissy ternyata bukan seorang perempuan yang sebegitu ‘manjanya’ dan sepertinya dia memang tidak manja. Meskipun sempat terus dibecandai oleh Dion yang diiming-imingi traktiran, akhirnya keduanya meluncur ke sebuah café yang telah menjadi tempat untuk Sissy bertemu dengan teman-temannya.

Begitu mereka tiba ditempat yang mereka tuju Sissy pun segera menggandeng Dion masuk ke dalam café tersebut dan langsung menuju ketempat teman-temannya yang sudah menunggu dan agak meriuh ketika ia tiba disitu.

“Ini, kenalin temen sekantor gue, Dion…” ujar Sissy pada teman-temannya. “…dan gue bakalan susah balik kalo nggak ada dia…”

Beberapa saat sebelum pulang kantor, aku mendapat SMS dari Steven sepupuku bahwa Nina, pacarnya mengajak kami untuk makan malam bersama dengan teman-temannya. Jadilah malam itu aku sudah duduk bersama Steven, Nina dan teman-temannya disebuah restoran. Mama sering membandingkan aku dengan Steven. ‘Liat Steven, dia baru kuliah tapi dia punya cewek calon dokter, kamu kerja melulu nggak dapet-dapet cewek. Nggak ada gitu cewek yang…’ dan seterusnya dan seterusnya.

Keberuntungan gue di Friendster emang nggak se-hoki Steven…

Aku mengerti semenjak Erika menikah, sepertinya mama ingin langsung duduk di pelaminan lagi dalam satu atau dua tahun tapi pada kenyataannya waktu itu aku malah sedang terjebak diantara dua perempuan yang tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar menjadi pacarku.

Berkomitmen itu emang nggak gampang, tapi menentukan dengan siapa lo akan berkomitmen itu lebih nggak gampang lagi…

Saat itu aku sedang menikmati waktu makan malamku. Teman-teman Nina itu adalah sekelompok perempuan dan laki-laki yang berpakaian bergaya dan rapi, sangat antusias membicarakan gadget –orang-orang yang bukan tipeku sebenarnya- tapi selalu ada saja hidangan yang tersaji dimeja kami. Tentu saja aku lebih memilih sok karab dengan meributkan iPhone versus Blakcberry daripada memakan Indomie goreng dengan nasi dan telur dirumah.

“OK, gini, sekarang gue tanya, jujur ya ? Lo lebih milih iPhone karena lo pengen gaya, atau lo emang butuh ?” tanya salah satu teman cowok Nina yang bernama Winston pada teman ceweknya yang bernama Sisca dengan semangat.

“Ya sebenernya gue pengen gaya…” jawab Sisca sambil sambil tertawa.

“Kalo Bang Rico gue yakin pengen beli Blackberry karena butuh, perlu, iya kan Bang ?” tanya si Winston yang memang memiliki gaya bisa membuat orang ingin terus ngobrol.

“Yaaa, sebenernya biar gaya juga sih…” ucapku lambat dan yang lain pun tertawa.

“Tapi kalo untuk Bang Rico kan penting, nggak cuman pengen ngegaya doang kaya dia nih…”

Obrolan pun terus bergulir dan aku mulai merasa cocok untuk bergabung dihabitat baru itu sampai akhirnya handphoneku tanda sebuah SMS diterima pun berbunyi. Dengan masih berusaha menggabungkan diri dengan obrolan yang terjalin disitu, aku membaca SMS yang baru saja aku terima tersebut.

‘Malem, Ric. Lg ngapain ? Kinda miss u here actually lho ;)’ Camilla.





Kamis, 24 Juli 2008

1. Is it one night stand…?


Eliza, ternyata aku sering salah menilai Eliza. Meskipun sudah cukup mengenalnya, aku selalu berpikir bahwa dia hanya seorang cewek yang sangat peduli akan dunia fashion, menjaga baik-baik mobilnya dan senang berpesta. Dan dia adalah orang yang berhasil membuatku ‘bergoyang’ di sebuah klab malam ternama, untuk pertama kalinya…

Waktu gue pake baju Anthrax terus headbang didepan panggung kok berasa keren banget tapi kenapa giliran gue pake Prorsum, joget di tempat yang mahal sama cewek cantik kok gue berasa konyol ya ?

Pagi harinya setelah launching Eliza kembali ke Jakarta yang sudah menjadi salah satu rutinitas weekendnya. Minggu siang itu langkah-langkah santai Eliza yang dibalut Pepe short dan tank top Victoria’s Secret mengayun disebuah jembatan pertokoan yang menghubungi dua buah mall yang terpisah. Begitu ia akan menuruni tangga jembatan tersebut perhatiannya tertuju pada deretan rak buku yang berada tepat dibawah tangga. Tulisan ‘BOOK SALE’ pun membuat Eliza membelokan tujuannya untuk mendekati tumpukan buku yang tersusun dengan rapi ditempatnya.

Untuk beberapa saat, Eliza asik menenggelamkan dirinya dibalik rak-rak buku itu sambil sesekali tersenyum ketika ia bisa menemukan beberapa buku yang menurutnya menarik dan ia tidak menyangka sebelumnya bahwa ia bisa menemukannya disitu. Ia kemudian meraih sebuah buku yang sangat menarik perhatiannya dan membolak-balik buku berbahasa Inggris dengan judul The Alchemist itu.

Beauty is the greatest seducer of man…”

Seseorang tiba-tiba berkata dengan nada yang dibuat sesopan mungkin seolah-olah tidak mau mengganggu orang yang sedang asik dengan buku temuannya itu.

Eliza pun segera menoleh ke arah datangnya suara tersebut dan ia bisa melihat seorang laki-laki yang berpenampilan santai namun cukup perlente tersenyum disampingnya sambil memegang sebuah buku.

“Buku bagus tuh…,” ucap Hardian dengan charming sementara perempuan yang ada disampingnya segera memicingkan sedikit matanya lalu menarik senyum yang sangat tipis sehingga ekspresinya itu nyaris tidak terlihat.

“Iya, saya punya bukunya,” sekarang Eliza sepertinya mencoba untuk tersenyum tapi tetap saja wajah cantik itu terlihat dingin. Ia kemudian mengembalikan buku salah satu penulis favoritnya itu ketempatnya dengan gerakan hati-hati.

“Kayanya familiar…” Hardian kembali berkata dengan mimik dan nada yang seramah-ramahnya pada Eliza yang langsung menggerakan kepalanya sedikit.

Kelebihan Eliza yang mematikan. Dia akan terlihat menjadi sangat dingin justru disaat orang ingin berusaha berbaik-baik padanya. Buat yang tidak terbiasa pasti rasanya ingin langsung membantingkan diri ke tanah saat itu juga. Tapi Hardian, si chief editor papan atas itu pastinya bisa menghadapi atau mungkin sudah biasa menghadapi hal-hal seperti itu.

“Empire, launching Alive!…” ucap Hardian segera.

Dan sama seperti orang-orang marketing lainnya yang terbiasa acting beramah-ramah dan akrab, barulah Eliza memperlihatkan senyum yang lebih lebar dari sebelumnya selain karena kali ini Hardian menyebutkan institusinya.

“Hardian, saya dari majalah Statement,” Hardian berkata lagi sambil menjulurkan tangannya tanda berkenalan dan Eliza pun langsung menyambutnya.

“Eliza,” balas Eliza yang senyumnya semakin mencair saja.

“Pestanya keren, saya menikmatinya,” Hardian kembali berkata dengan nada agak bercanda sehingga menciptakan suasana yang hangat.

“Terima kasih, semua orang hampir gila nyiapin launching itu…” komentar Eliza bercanda dan Hardian pun tertawa renyah.

“Saya bisa ngebayangin kok.” Ucap Hardian. “By the way ada apa di Jakarta ? Mau bikin launching juga ?”

“Oh, nggak, makasih, sebulan sekali senang-senang pake uang perusahaan kayanya cukup buat kita…” jawab Eliza dan kembali membuat Hardian tertawa pelan.

Begitulah Eliza, dengan mimik dinginnya itu kadang-kadang dia masih bisa membuat orang tertawa dengan cukup baik.

“Iya, iya, I see…” tandas Hardian.

“OK, kayanya saya masih musti keliling-keliling.” Ucap Eliza.

“Oh, OK, oh iya, bisa minta kartu namanyanya ?” tanya Hardian segera sambil mengeluarkan kartu namanya sendiri.

“Boleh,” Eliza pun segera merogoh dompet Marc Jacobs-nya dan mengambil selembar kartu nama miliknya dan menyodorkannya pada Hardian.

“Thank You,” ucap Hardian sambil ikut memberikan kartu namanya tersebut.

“Your welcome, OK mas Hardian, saya tinggal ya,”

“Iya, silahkan,”

Dengan langkah tegaknya yang terlihat agak angkuh Eliza pun berlalu dari hadapan pemimpin redaksi majalah Statement tersebut.

***

Senin pagi itu aku tiba di kantor agak lebih cepat dari biasanya. Aku tahu, itu adalah sebagai efek dari launching kemarin. Karena ini seperti kamu membuat sebuah karya yang disukai oleh banyak orang, mendapat pujian, dan pastinya, kita menjadi lebih bersemangat untuk membuat sesuatu yang lebih baik lagi dengan kepala terangkat dan hidung mengembang.

Ternyata bukan aku saja yang tiba di lapangan parkir lebih cepat pagi itu. Saat aku memarkirkan motorku, sebuah Mercedes C-Class silver yang mengkilat diterpa oleh matahari pagi kelihatannya juga baru tiba. Aku selalu ingin tertawa sendiri jika melihat situasi seperti itu.

Coba tebak, siapa bosnya ?

Tepat setelah aku membuka helm dan turun dari motorku, Dinda juga turun dari mobil mewahnya tersebut. Ditambah maxi dress yang tentunya berasal dari sebuah butik terkenal lalu strappy high heels yang entah berapa harganya, orang-orang yang tidak tahu mungkin akan langsung menebak dalam hati, ‘ah, ini dia bosnya’. Bukan apa-apa, dibandingkan laki-laki sok rapi dengan motor cicilannya, C-Class dan Alessandro Dell'Acqua pasti lebih meyakinkan. Dan jujur saja, aku sangat menikmati kondisi itu.

Underrated is better then overrated.

“Morning…,” sapa Dinda dengan senyum manisnya yang benar-benar cerah seperti menyaingi silaunya matahari jam 9 pagi.

“Morning,” balasku dan kami pun berjalan beriringan menuju pintu kantor.

Sepertinya memang pagi itu semua orang merasa lebih bersemangat dari sebelumnya. Berkali-kali suara nyaring yang mengucapkan ‘pagi’ atau ‘morning’ terdengar diikuti senyuman meriah. Tidak heran memang, ketegangan yang kami rasakan hampir satu bulan lebih itu akhirnya bisa terpecahkan juga dengan sukses. Ruang tengah kantor Alive! yang juga merupakan ruangan miting pun dipenuhi oleh para staff yang masih mebahas masalah launching, apa yang terjadi dengan cara mereka masing-masing. Ronald dan Miranda datang dengan membawa berita bahwa pesta kami di malam sabtu kemarin jadi liputan utama dibeberapa majalah Jakarta. Sejak pertama tiba dikantor, Mbak Shinta langsung membuka obrolan yang cukup serius tapi santai dengan tim marketing. Dinda dan Salma lebih senang membicarakan soal fashion tentu saja, sambil menikmati kopi mereka. Sementara Sarah dan Rahmi masih saling curhat karena mereka belum terlalu terbiasa dengan penampilan mereka saat launching. Beberapa saat kemudian obrolan-obrolan yang sebelumnya terpisah itu pun menyatu.

“Bo, gue tuh paling males kalo ada wartawan-wartawan ‘bodrek’ gitu, sebel banget gue sama mereka…” ujar Miranda mengeluh.

“Iya, yey, tapi ijk layanin aja asal-asalan, kerjain balik aja, yey. Masa ada yang pengen nge-interview gue deket big screen gitu, ceu, aneh banget kan ?! Dan dia nggak bawa kamera atau apapun gitu. Apa maksudnya coba interview deket big screen ? Akhirnya gue suruh aja wawancara di backdrop yang di luar, begitu beres gue tinggalin terus bilang sama security, ‘mas, orang itu jangan diijinin masuk lagi, ya’” timpal Ronald dan keduanya pun tertawa.

“Wah, gue sih sibuk sama Ibu Nila and the gang gitu, bo.” Mbak Shinta pun tidak mau kalah bertutur. “Ya ampun, orang-orang CMK tuh ternyata banci hang out semua. Mana Pak Herdiansyah maksa pengen ke Lembang subuh-subuh. Akhirnya gue hari Sabtu itu masih stuck sama temen-temennya Pak Chris itu, giling deh pokonya…”

“Gaunnya Ibu Nila keren tuh, gue suka…” celetuk Sissy.

“Iya, Prada, bo. Keren banget emang.” Timpal Dinda langsung.

“Tapi ada yang bajunya hampir bikin fashion editornya Sale nangis dooong…,” ujar Salma sambil melirik pada Eliza yang tersenyum tipis.

“Iya, dia langsung sok akrab gitu sama gue…” Ujar Eliza yang dimalam launching tersebut ‘memamerkan’ koleksi Marc Jacobs-nya.

Itu semua adalah ‘obrolan perempuan’. Para cowok –kecuali Ronald tentunya- saat itu lebih memilih untuk berkumpul dan ngobrol di balkon kantor. Kami sedikit mengevaluasi kekurangan dan apa yang seharusnya tidak terjadi, selain mensyukuri kehadiran tamu-tamu perempuan yang ber-strappy dress di atas lutut dengan bagian dada terbuka agak terlalu lebar dan Amed yang terus curhat karena tidak satupun SPG Alive! yang bisa ia dekati.

“Dari 10 orang, ngga ada yang bisa dideketin satu pun…” Amed berkata tengan dengan wajah dan nada menyesal.

“Lemah Lo, Med…” komentar Dion santai sambil menghembuskan asap rokoknya Paul dan aku pun hanya tertawa pelan.

“Halah, lu juga nggak bisa ngedeketin model-model itu…” balas Amed.

“Lho, gue kan ngeceng doang, lo yang ngotot pengen kenalan…” Dion berusaha membela diri dengan gayanya yang sok tenang.

“Ah, sama aja lu, bisanya memandang dari kejauhan doang, lah…” ujar Amed lagi tidak mau kalah dan kami pun tertawa.

“Eh, ngomong-ngomong bukannya ada yang nganter tamu pulang nih…” celetuk Paul.

Aku segera menoleh pada Paul dengan agak menajamkan tatapanku sedangkan ia hanya tersenyum dengan wajah jahil. Dion dan Amed pun memandangiku seolah-olah menunggu aku untuk mengatakan sesuatu.

“Apaan…?!” tanyaku tenang pada teman-teman sambil menghisap rokokku tapi mereka malah semakin memperhatikanku dengan penasaran.

“Wah, ada yang nggak mau bagi-bagi cerita…” celetuk Amed.

“Nggak ada yang musti diceritain juga kok…” kataku berusaha bertahan dari tatapan-tatapan yang menekan itu.

Tapi tiba-tiba saja suasana diteras kantor itu membeku. Ketiga temanku itu tampaknya tidak mau menyerah begitu saja, mereka terus menatapku dan tiba-tiba saja aku merasa menghianati persahabatan jika aku tidak bercerita pada mereka.

Persahabatan itu kayak ngawinin temen, waktu lo mulai nggak jujur, nantinya temen-temen lo bakalan ninggalin lo…,sial…

“OK…,” aku berkata lambat sambil memandangi teman-temanku itu satu persatu.”Tapi ini obrolan antar cowok aja ya ? Terus begitu lewat dari teras, nggak usah dibahas lagi…”

Maneh jiga ka saha wae, Ric…(lo kaya ke siapa aja, Ric)” ucap Amed.

Setelah berusaha meyakinkan ketiga temanku itu tidak akan menceritakan pengalamanku pada yang lainnya, akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi padaku setelah launching.

“Enak ya lo, gampang banget dapet one night stand-an…” Dion berkata perlahan.

“Gila lo, bukan one night stand, kali…” kataku berusaha membela diri.

“Iya, lo sering banget sih kaya gitu ?” tambah Amed dan aku semakin ingin meluruskan segalanya.

“Enak aja, gue baru 2 kali ngalemin kaya gini-“ belum selesai aku berkata, didahului oleh Dion, Amed dan Paul pun tertawa. “Nggak, bukan gitu…”

Another incidental one night stand ?” tanya Paul dan dari cara ia berbicara terdengar mengejek apalagi dengan cengiran tipisnya yang tersirat itu.

“Nggak…” sangkalku segera dengan tenang tapi itu malah membuat ketiganya kembali tertawa. “Heh, dengerin dulu, kata gue sih kalo one night stand, nggak ada chemistry…”

“Lha, bukannya harus ada chemistry ?” potong Dion bertanya.

“Maksud gue, ini beda. Bukan cuman karena kita pengen aja, gitu…”

“Terus kok bisa…?” ujar Paul dan mereka kembali tertawa.

“Bukan cuman gara-gara libido, nafsu or something like that, lah,” ucapku dan teman-temanku itu masih memandangiku dengan aneh. “meskipun, libido berperan didalamnya…” bahkan akhirnya saat itu aku pun ikut tertawa.

Tapi aku benar-benar tidak ingin menyebut apa yang aku alami malam itu adalah one night stand. Meskipun mungkin memang begitu, tapi menurutku itu terlalu kasar. Aku selalu menganggap one night stand itu adalah, kamu tidur dengan seseorang, berekeringat, lemas, lalu tidur yang sebenarnya, bangun setelah itu kamu tidak ingin mengingat apa yang telah terjadi semalam.

Gue ngga bisa nyebut itu one night stand, soalnya kayaknya nggak ada yang pengen ngelupain apa yang terjadi malem itu…

Waktu itu aku terbangun sambil berusaha merasakan apakah terjadi hangover ketika Milla membalikkan tubuhnya dan dengan mata yang sayu dia masih saja bisa, atau paling tidak, berusaha tersenyum dengan begitu manisnya. Setelah itu, ia menutup mulutnya dengan bed cover sambil terus memandangiku dan aku balas menatapnya.

Gosh, I don’t like the way we stairing each other, and that means I enjoy it…

“Gue pengen ngasih ciuman selamat pagi, tapi lo bisa tolong ambilin minum dulu nggak ?” terdengar suara pagi Milla dari balik bedcovernya itu sehingga aku pun tertawa pelan tertahan.

Aku pun menuangkan segelas air putih dari pitcher yang tersedia di bufet yang ada di sisi tempat tidur, kemudian memberikannya pada Milla. Ia meminum air itu sampai habis , setelah itu giliranku menuangkannya untuk diriku sendiri sementara Milla beringsut mendekatiku dan begitu aku selesai menegak air putih yang menyegarkan tersebut dan menoleh pada Milla ia mengecupku lembut namun dalam.

So, it’s weekend, what’s your plan ?” tanya Milla kemudian sambil ‘memanjat’ tubuhku dan salah satu kaki indahnya itu terangkat.

Aku terdiam sejenak dengan sambil memberikan senyum begitu pula Milla dan saat itulah aku menyadari aku sangat menyukai cara kami berpandangan.

“Lo udah ngerencanain apa ?” tanyaku lambat pada Milla.

“Keliling-keliling, belanja-belanja, mau gabung…?” ujar Milla dan kali ini dia tampak lebih serius.

Sounds great, kalo lo nggak keberatan …” kataku berusaha seseopan-sopannya. Aku mengerti bahwa kami sudah berada di satu tempat tidur dengan kondisi yang, tidak ada seorang pun yang akan menyebutnya sopan memang, tapi tetap saja kami baru saling mengenal.

“Ya nggak lah,” timpal Milla cepat sambil memandangku dalam hingga pintu kamar itu pun diketuk oleh seseorang. “Oh, ya ampun, Cita nih kayanya…” ucap Milla lalu menjauh dari tubuhku sambil membelit tubuh sebisanya dengan selimut kemudian ia pun melangkah menuju pintu. Sementara itu aku panik karena keadaan itu tentu saja tidak akan menyenangkan untuk dilihat oleh orang lain.

Lo menemukan temen lo hampir telanjang dan menyimpan lawan jenis di kamarnya…nggak bagus deh kayanya…

Tapi saat itu Milla memberikan isyarat padaku seperti memintaku untuk tenang saja. Aku pun segera membenamkan diri sebisanya di tempat tidur yang sudah tidak rapi itu berharap bisa berkamuflase menjadi onggokan selimut dan menyatu dengan bed cover. Milla ternyata hanya membuka sedikit pintunya dan entah apa yang ia katakan yang jelas hanya beberapa detik saja ia kembali menutup pintu kamar, kembali berjalan ke arahku sambil tersenyum.

“Gue ke kamar sebelah dulu, ya Ric,” ucap Milla sambil melepaskan kain hangat yang menutupi tubuhnya itu.

Semuanya berlangsung seperti sudah direncanakan sebelumnya. Siang harinya, aku Milla dan Cita temannya, sudah menjelajahi kota Bandung. Jujur saja sebenarnya aku masih agak canggung karena baru tadi malam kami saling berkenalan apalagi setelah diterpa sinar matahari, Milla ternyata terlihat lebih cantik lagi dengan dandanan naturalnya. Sebagai pendamping Milla, aku hanya mengikuti kemana fashion editor Putri dan teman reporternya itu sesuai dengan keinginan mereka mengunjungi hampir semua factory outlet yang ada di jalan Riau, distro-distro, bahkan makan bersama.

Lama-kelamaan rasa canggung yang aku rasakan mulai menipis bahkan aku juga bisa menjadi lumayan akrab dengan Cita. Aku dan Milla bahkan bisa lebih semakin mengenal karena kami banyak bertukar cerita. Kami sempat makan siang bersama di daerah Lembang, kembali ke hotel untuk menaruh jinjingan Milla dan Cita yang mulai membutuhkan tangan ketiga bahkan mungkin empat, setelah itu aku terpaksa menghadiri sebuah pesta lagi karena rupanya teman Milla menggelar acara di sebuah klab ternama. Malam minggu itu tidak ada yang, ‘istimewa’, karena jatah satu kamar yang dimiliki oleh Cita telah habis.

Keesokan harinya, aku sudah berada di sebuah pool travel untuk mengantar Milla dan temannya itu pulang. Aku duduk bersebelahan dengan Milla sementara Cita sejak tadi tampak sibuk dengan teleponnya. Milla tidak pernah melepaskan gandengan tangannya dan kami selalu bercakap-cakap dengan wajah yang mendekat.

Jujur aja, gue semakin menikmati perkenalan ini…

“Thank you ya Ric, lo udah mau nemenin gue…” ucap Milla dengan tatapan yang dalam.

“Sama-sama, gue juga seneng jadi ada temen weekend-an,” balasku juga dengan tersenyum. Milla kemudian seperti menata rambutku sejenak.

“Ntar klo gue kesini lagi, lo mau nemenin gue lagi kan ?” Milla berkata lagi dengan lambat.

“Ya iya lah,” jawabku pasti dengan senyuman.

“Soalnya ntar, dua minggu depan lah kayanya gue kesini lagi.”

“Dalam rangka apa ?” tanyaku berbasa-basi sebenarnya. Mendengar Milla akan kembali lagi saja sebenarnya sudah membuatku cukup senang.

Berita yang bagus…

“Sebenernya gue ada sodara disini. Biasanya gue kesini sebulan sekali,” sahut Milla.

“Jadi, gue akan bertemu lagi dengan lo…”

“Yabiiis…?” timpal Milla dan kami pun tertawa pelan sambil bertukar pandangan dalam. “Duh, gue pengen ke toilet,” keluh Milla kemudian.

Aku pun mengantar Milla ke toilet pool travel yang ternyata cukup dipadati pengunjung hingga seorang petugas memberitahukan kami bahwa ada satu toilet lain di pojok tempat tersebut. Setibanya di tempat yang ditunjukan sang petugas, aku sempat berpikir Milla mungkin akan bermasalah dengan letaknya yang agak terpencil dan mungkin memang demikian. Dia sempat terlihat agak ragu tapi setelah memastikan toilet tersebut tampak bersih, ia segera masuk ke dalam, lalu Milla membalikan badannya.

Wanna join ?” tanya Milla padaku yang sempat kaku sejenak lalu segera menghampirinya dan menutup pintu toilet tersebut.



Here it goes again...

Lucu memang. Mungkin setiap orang memiliki satu kesempatan untuk menjadi seorang raja atau ratu dalam satu malam saja dan itu adalah yang aku rasakan. Rasanya aku ingin mentertawakan diriku sendiri jika harus mengingat waktu aku harus berbicara di depan kilatan dari kamera-kamera yang akhirnya memberikan efek pelangi di retina mataku, semua orang ingin berkenalan tapi mereka sudah tahu namaku entah dari mana dan…

“Mornin’ editor in chief…”

Dari kesayuan mataku pun terbelalak ketika mendengar ucapan selamat pagi seorang perempuan dengan suara yang masih agak berat itu diikuti dengan suara gerak tubuh yang mungkin sedang berbalik dari posisi sebelumnya.

What the...

Aku pun sadar bahwa aku memang tidak langsung pulang ke rumah semalam. Tentu saja, karena pagi itu aku terbangun di sebuah tempat tidur yang jelas-jelas bukan tempat tidurku. Semalam aku memang mengantar pulang seseorang ke hotel...

Owh, man...

Sejenak serasa ada angin badai yang bertiup dari ujung rambut hingga ke ujung-ujung jari kakiku. Tidak ada keinginan untuk memejamkan mata kembali seperti yang biasa aku rasakan kalau aku mendengar alarm dari –handphone seadaanya warisan Papi sudah tidak aku pakai- handphone kekinian baruku. Dengan posisi tidur yang terlentang, aku memalingkan kepalaku perlahan-lahan dengan agak berhati-hati hanya untuk memastikan bahwa aku berada di tempat tidur dengan orang yang benar. Jujur saja meskipun aku sudah merasa pasti, pikiranku dengan bodohnya menyebar teror tentang seorang transgender asal Thailand yang tau-tau saja berada satu tempat tidur denganku dan pastinya itu sama sekali tidak asik. Tapi tentu saja itu tidak terjadi. Yang aku lihat hanyalah punggung berkulit putih dan tengkuk yang terhalang rambut panjang bergelombang. Seperti ombak laut yang sedang menggulung pasir putih pantai.

There she is, Milla…

Jadi, kronologinya adalah sebagai berikut:

Setelah melantai habis-habisan beberapa tamu yang seingat aku terdiri dari model-model dan staf-staf muda dari, aku sudah lupa dari perusahaan apa saja mereka itu, berkumpul bersama kami di sebuah meja. Kami minum-minum meskipun seingat aku tidak ada satupun diantara kami yang sampai mabuk sambil membicarakan banyak hal. Sebenarnya waktu itu aku sudah sedikit merasa risih karena para model itu mungkin mengincar untuk bisa tampil di halaman depan Alive!, aku jadi tahu karena bisikan Ronald sebelumnya. Sementara tamu-tamu yang lain tampaknya tertarik untuk mendengarkan ocehanku seperti tidak curiga siapa tahu saja aku sedang mabuk saat itu.

”Saya sih cuman berusaha kalau kita menciptakan sesuatu yang gratis, pastikan kita memberikan ’hadiah’ itu sama orang-orang yang tepat. Soalnya, misalkan kita sponsor dari sebuah acara terus ngeliat trofi bergilir kita yang seharusnya sangat bergengsi, yang prestisius banget itu dipegang sama juara dua atau tiga pasti kita ngerasa aneh kan ? Jadinya kaya yang percuma, soalnya piala itu nggak ada di tangan orang yang tepat...” ujarku waktu itu.

Gue juga udah lupa kenapa gue sampe ngomong kaya gitu...

Aku hanya teringat waktu itu yang menemaniku untuk ngobrol kesana kemari adalah Ronald dan Sissy. Bukan apa-apa, Ronald memang bertugas untuk menemani tamu sedangkan Sissy, wajar saja kalau banyak orang yang ingin dekat-dekat dengannya mungkin berharap bisa mendapatkan diskon iklan setelah ngobrol-ngobrol dengannya.

Dan disanalah Milla yang bernama lengkap Kamilla Larasati juga berada. Awalnya dia cuman ngobrol-ngobrol dengan Sissy dan Ronald sambil menikmati sebotol Mix Max dan sesekali menyimak omongan-omongan –yang sebenarnya tidak terlalu penting- ku dengan beberapa tamu yang lain.

“Ric, kenalin, ini Milla, fashion editornya majalah Putri.” Ronald akhirnya memperkenalkan Milla padaku.

“Milla,” Milla memperkenalkan dirinya dan aku bisa melihat ia tersenyum lebar di balik kilatan cahaya lampu Empire.

“Rico,” balasku tersenyum.

Aku memang mengakui bahwa Milla itu memang hot. Dia tampil dengan mengenakan sebuah baby doll bermodel tunic di atas lutut dan daerah dadanya sebenarnya agak sedikit terlalu terbuka tapi sepertinya dia memang ingin menonjolkan kelebihannya, itu bagus menurutku dalam arti sebenarnya. Setelah itu, perempuan berwajah natif yang manis dengan mata berkilat-kilat ceria tersebut duduk disebelahku, merokok, memesan sebotol Mix Max lagi lalu terlibat obrolan bersama aku dan tamu-tamu lainnya. Terus terang ada sesuatu yang ’lucu’ waktu itu. Milla yang terlibat obrolan penuh basa basi dan cenderung penting nggak penting seperti bisa menyambung apa yang aku bicarakan. Singkatnya, aku merasa cocok dengan perempuan ayu yang selalu tersenyum tipis sambil mengangkat dagu tersebut sampai akhirnya pesta pun harus berakhir.

”Lo pulang ke mana Mil ?” tanyaku pada Milla yang ternyata berjalan bersama-sama denganku ke pintu keluar Empire.

”Gue nginep di hotel Nova,” jawabnya masih dengan senyuman dan gerak kepala yang ceria.

Entah dapat ide darimana, setelah sedikit ngobrol tentang keberadaannya yang juga ia manfaatkan untuk berakhir pekan di Bandung (kantor majalah Putri itu ada di Jakarta), aku menawarkan diri untuk mengantarkan ia pulang. Jadilah waktu itu sesudah aku menggelar sedikit pembicaraan dengan teman-teman, Deni membantu untuk memesan sebuah taksi dan kami pun meluncur ke Hotel Nova.

“Sebenernya, ini bukan dunia gue. Gue aja masih ngerasa…gimana ya ? Bisa dibilang amaze sendiri, gue bisa berkecimpung di dunia yang gue bahkan nggak terlalu mengenal-, bisa dibilang sama sekali nggak kenal malah.” Ujarku saat kami sudah berada di taksi waktu Milla menanyakan tentang keberadaanku di Alive!

So, kenapa lo bisa tertarik untuk ngurusin tetek bengek fashion ini ?” tanya Milla waktu kami sudah berada di dalam taksi.

Aku sudah punya jawaban yang sebenar-benarnya untuk menjawab pertanyaan Milla itu, tetapi aku memilih untuk tidak terlalu jujur pada orang asing.

Jangan pernah terlalu terbuka dengan orang yang baru lo kenal, dia bisa mengenalmu terlalu jauh, kalo kata gue sih nggak seru, hehehe...

Jadinya aku hanya tersenyum tipis pada Milla dan rupanya dia bisa mengerti arti dari senyumanku itu. Milla benar-benar memiliki gerak tubuh dalam hal ini adalah gerak wajah yang bisa membuatku suka padanya. Dia kembali menaikan sedikit dagunya, kepalanya bergerak ceria kemudian mengeluarkan senyuman dikulum.

I see...,” ujarnya singkat dan lambat dengan suara renyah, ia berhenti sejenak seperti memperhatikanku dengan girang kemudian berkata lagi dengan kening berkerut. ”Waktu gue pertama kali ngeliat edisi pertama Alive!...”

”Dapet dimana lu ?” potongku bertanya penasaran.

”Di Coffee Bean Citos,” jawab Milla lalu melanjutkan kata-katanya. ”Majalah lu lucu, bagus,”

Thank you,”

Your welcome. Dan gue penasaran gitu, gue liat editorialnya, OK, ternyata free magz-nya CMK terus gue liat foto lu disitu.”

Kata-kata terakhir Milla berhasil membuatku terpaku untuk mendengarkan apa yang akan dia katakan selanjutnya. Karena aku berpikir bahwa sebagai Salma-nya majalah yang lebih besar mungkin dia akan mengeluarkan kritikan-kritikan tapi ternyata dia lebih tenang daripada Salma.

”Lu dengan t-shirt lu itu...” Milla pun tertawa pelan sehingga aku pun ikut tertawa. ”looks cute sih, tapi jadinya nggak nunjukin bahwa lu adalah orang fashion...”

”Fashion editor gue belum sebawel sekarang waktu edisi pertama,” belaku dengan cengiran.

“Iya gue tau, tapi sebenernya yang sempet gue pikirin, apakah lu straight atau…” aku kembali tertawa ketika mendengar kata-kata tersebut sementara Milla melanjutkan apa yang ingin ia katakan. “Serius ! Gue sempet yang mikir kayak gitu, tapi penampilan lu emang nggak sebanci itu sih, cuman sampe beberapa jam yang lalu gue masih punya pikiran-pikiran seperti itu, ” tandas Milla dan sekali lagi aku tertawa. “Beneran ! Ternyata gue salah. Eh-, gue salah kan bo ?” Milla mengakhirinya dengan ikut tertawa dan aku pun menjawab untuk membuatnya yakin.

Perjalanan singkat kami menelusuri jalan Cihampelas dengan Blue Bird pun berakhir ketika taksi yang kami tumpangi itu tiba di Hotel Nova. Tapi tidak ada tanda-tanda salah satu diantara kami akan mengucapkan kata-kata perpisahan sedangkan aku memang berniat untuk mengantarkan Milla hingga ia berada di dalam kamarnya. Selain itu, aku bisa merasa bahwa ini adalah sebuah perkenalan yang menyenangkan.

Satu : Aku adalah seorang pecinta kaki perempuan. Entah yang seperti apa, tapi aku punya penilaian sendiri tentang kaki.

Tanpa berkata apa-apa Milla langsung masuk ke dalam kamarnya dan membiarkan pintu terus terbuka seolah-olah ia mengijinkan aku untuk masuk ke dalam kamar. Milla berjalan mendahuluiku lalu melepaskan high hillsnya dan aku bisa melihat sepasang kaki jenjang melangkah anggun.

Point tambahan selain gerak-gerik Milla yang cute itu, kakinya bagus juga.

”Tutup aja pintunya Ric.” pinta Milla kemudian.

”Lo sendirian dari Jakarta ?” tanyaku pada Milla waktu aku menutup pintu sesuai permintaannya.

”Sama reporter gue, tapi tadi dia udah pulang kesini duluan.” Jawab Milla santai membiarkan aku terbingung-bingung karena aku berpikir bahwa mungkin saja temannya itu ada satu kamar dengannya tapi aku tidak melihat orang lain di situ.

“Owh...” jawabku ragu sedangkan Milla sepertinya tahu apa yang sedang aku pikirkan.

“Dia tidur di kamar sebelah. Kan gue sambil dalam rangka liburan juga nih, jadi gue pengen tidur sendirian aja. Gaya ya gue ?”

Dua : Tempat tidur adalah tempat paling sakral yang menyimpan sisi liar.

Tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu, Milla pun menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur sementara aku duduk di salah satu kursi yang menghapit meja di dalam kamar tersebut.

”Haaahhh...” desah Milla seolah-olah dia sangat menikmati saat berbaringnya itu. ”Seneng-seneng itu capek juga ya ternyata ?”

”Lo kan langsung dari Jakarta tadi. Ya wajar lah kalo lo capek.” Kataku sambil menyalakan sebatang rokok.

Mungkin saat itu aku juga merasa lelah. Bukan apa-apa, sempat sedikit merasa tegang dengan launching, harus berhadapan dengan banyak orang dan yang jelas tak terbiasa dengan suasana hingar bingar klub membuatku sangat tergiur akan tempat tidur yang terhampar dihadapanku.

Apalagi ada cewek seseksi itu diatasnya...damn, lupakan...

”Thanks buat pestanya ya, Ric,” Milla tersenyum padaku dari atas tempat tidurnya.

”Itu pestanya anak-anak...” sahutku dengan senyuman.

”Ya pesta lo juga, kali...” Milla menimpali singkat.

Kami sempat kembali ngobrol-ngobrol tapi aku pun mulai merasa tidak enak karena aku berpikir mungkin saja Milla sudah membutuhkan waktu untuk tidur. Jadi, aku pun memutuskan untuk berdiri dari tempat dudukku dan berpamitan padahal Milla belum menunjukan gelagat-gelagat bahwa dia sudah mengantuk atau merasa terganggu dengan kehadiranku disitu.

“OK deh kalo gitu. Kayanya gue udah musti balik nih,” kataku pada Milla sambil beranjak dari tempat duduk.

“Mau balik sekarang lo ?” tanya Milla seperti keheranan.

”Iya, kasian lo udah capek.” Jawabku.

”Nggak apa-apa, kali. Ini weekend lho, bo.” ujar Milla lagi kemudian seperti enggan ia bangkit dari posisi berbaringnya.

Tiga : Perasaan nyaman saat kamu sedang bersama seseorang apalagi dia adalah adalah seseorang yang baru kamu kenal itu membahayakan. Dia bisa jadi mengenalmu dengan baik, sangat baik mungkin.

Aku tahu benar aku merasa nyaman bersama dengan Milla dan rasanya aku belum ingin untuk beranjak. Tapi aku merasa mau tidak mau harus berjalan menuju pintu kamar sementara Milla mengikuti melangkah dibelakangku.

Sebenarnya aku berniat membalikan badanku untuk menanyakan nomor teleponnya dan berpamitan sekali lagi. Begitu aku melakukannya, aku merasakan Milla berdiri terlalu dekat didepanku. Kami sempat berpandangan tanpa mengucapkan kata-kata dan aku pun bisa menyadari bahwa wangi dari parfum yang dikenakan oleh Milla memberikan rasa segar, dan membuatku menjadi... agak bergairah. Sejurus kemudian tahu-tahu saja kami saling mendekatkan tubuh dan aku pun menyambut Milla dengan kecupan yang dalam. Aku mendekap erat tubuh Milla sementara kedua tangan Milla membelai pipi dan tengkukku. Setelah beberapa saat, Milla meregangkan wajahnya dan rasanya aku ingin mengejar bibir itu agar tidak menjauh.

Dan satu-satunya jalan adalah, jangan pulang dulu...

2nd Season

Well mates, itulah season pertama dari Alive! The Editor's Journal, kita bakalan masuk ke season kedua, episode II or so whatever dari Editor's Journal, enjoy your reading...

Regards,
Enrico M. Velazquez
The Editor

NB: Jika ada kesamaan kejadian, nama, tempat, atau hal lainnya mohon di maklumi karena sebagian isi jurnal ini memang ada yang bukan hanya fiktif belaka.

Selasa, 22 Juli 2008

15. ...3, 2, 1... launch !

Kesibukan kantor berjalan terus terutama untuk menyiapkan launching. Hari H semakin mendekat saja dan semua orang mulai disibukan oleh tugas mereka masing-masing. Hari itu Salma dan Dion tegang karena mereka sering kali tidak yakin dengan hasil pemotretan ulang cover yang sudah dilakukan berkali-kali tersebut. Mbak Shinta kembali menjadi penyihir jahat dengan mantra-mantra kutukannya, lalu Ronald sesekali harus kehilangan keanggunannya demi membantu Miranda yang senyumnya mulai memudar perlahan.

“Ion, materi untuk billboard udah siap?” tanyaku mengingatkan pada Dion.

Aku bisa melihat Dion yang sedang memegang telepon di kupingnya itu mengacungkan jempol. “Halo dengan Bawang Merah Advertising ? Ya, saya Dion dari Majalah Alive!“

“Mir...,” panggil Mbak Shinta diantara Eliza dan Sissy yang sedang sibuk berkoordinasi. “Mir...!”

Miranda yang merokok panik dengan telepon di kupingnya itu mengangkat alis tanda menjawab.

“Papulo mau bikin tips fashion buat cowok ntar pas launching...” ujar Mbak Shinta lagi.

“Kan udah ada runway, mbak...” Sissy yang menyambut perkataan Mbak Shinta tersebut.

“Mereka pengen 2 halaman mulai edisi 3...” Mbak Shinta pun tersenyum manis sambil mengelak dari lengan Sissy yang terjulur pada Eliza.

“OK, sebelum runway aja Sy...” tandas Miranda yakin kemudian seseorang menjawab teleponnya itu. “Iya halo, dengan Magdalena Pinky ?”

“Woi, ada yang bisa nge-handle backdrop ?!” pekikku dari pintu ruang redaksi.

“Yooo...!”

“Siap !” sambut Paul dan Amed berbarengan mereka pun berhamburan keluar dari ruangan distribusi.

Hari yang bertempo kerja tinggi tersebut terus bergulir bahkan tanpa komando, para crew Alive! memutuskan untuk lembur. Sore menjelang malam itu aku telah menyelesaikan semua urusanku dan termenung di teras kantor. Aku memandangi kota Bandung yang terhampar dihadapanku ditemani sebatang rokok dengan maksud agar aku bisa meringankan kepalaku yang terasa berat karena pekerjaan yang cukup membebani. Melupakan sejenak launching, aku tersenyum sendiri ketika mengingat apa yang terjadi padaku hari-hari sebelumnya. Aku adalah tipe orang yang bisa melupakan perasaanku dalam waktu semalam saja. Kata temanku itu berengsek, tapi –diam-diam sebenarnya- aku justru menganggapnya sebagai anugerah. Jika ada yang menyuruhku untuk menjelaskan apa yang aku rasakan saat itu, jujur saja aku bingung untuk mencari kata-kata yang benar-benar tepat.

Lo menyadari bahwa Lo baru aja kehilangan seseorang yang berarti buat Lo. Seperti mengakhiri fairy tale dengan unhappy ending, tapi justru karena itulah ceritanya jadi bagus...

Tidak gampang memang, tapi yang aku rasakan saat ini adalah lepas..., sebuah kelegaan. Ya, sebuah perasaan lega dan jujur saja ada kebahagiaan yang aku rasakan saat itu.

Kenangan itu ada agar terasa indah bila diingat. Soalnya, Lo mungkin nggak akan pernah bisa mendapatkannya kembali. Sampai akhirnya...

“Hei,” Eliza datang membawa secangkir teh.

...Lo bisa ngelupain semuanya...

“Hei,” balasku menyapa dengan tersenyum sementara Eliza memandang dengan dingin padaku kemudian ia pun menawarkan cangkir tehnya padaku.

Si cantik beracun...

Eliza bisa membuatku jadi penurut, dia berhasil membuatku mengambil cangkir teh itu.

“Awas panas...” Eliza mengingatkan dan aku pun menyadari khasiat secangkir teh.

“Kenapa Lo kemaren-kemaren ?” tanya Eliza ringan sambil memperhatikanku.

“Ya..., biasa lah...” jawabku berkelit karena aku sebenarnya tidak ingin membicarakan masalah itu lagi.

“Cewek ya?” ujar Eliza bertanya singkat.

“Apalagi...?”

“Orang patah hati supaya dia bisa belajar untuk lebih mencintai lagi...” ujar Eliza tenang sambil memandangi pemandangan yang terhampar di teras kantor.

Aku memperhatikan wajah dingin dengan senyum tipis itu kemudian kembali meneguk teh yang sudah mulai menghangat.

“So, lo udah nggak apa-apa sekarang ?” tanya Eliza.

“Iya, gue udah nggak apa-apa, dari kemaren-kemaren juga gue udah baik-baik aja kok.” Jawabku tersenyum.

“Nice to hear that,” ujar Eliza singkat dan kami pun sama-sama tersenyum.

Untuk sesaat aku dan Eliza berdiri kaku di teras kantor hingga akhirnya suara Mbak Shinta menggelegar dari ruang tengah.

“Makan enak, yuuukkk ? Gue yang traktir deh !”

Tanda-tanda dini mengalami stress ala metropolitan, terus menghambur-hamburkan uang untuk menghibur diri...

***

“Harus pake gel ya ?” tanyaku pada Eliza yang sedang menata rambutku dengan minyak rambut bening dan kenyal yang lengket itu.

“Lo keliatan fresh terus jadinya...” sahut Eliza singkat dengan ekspresi yang dingin.

Too shine...” kataku lagi Eliza hanya menarik sudut di bibirnya itu singkat dan terus melakukan sesuatu dengan rambutku.

“Oh my God, Gue belum kebelakang dari tadi pagi...” Sissy mengeluh kemudian memegang perutnya.

“Kenapa, Lo nervous ? Minum banyak air aja, Sy...” usul Mbak Shinta yang sedang bercermin di depan kamar mandi.

Akhirnya saat-saat yang paling ditunggu itu pun telah tiba. Hari itu semua crew Alive! sudah mulai sibuk untuk menghadiri acara launching. Semua hal dipersiapkan dengan sebaik-baiknya terutama...penampilan pastinya...

“Bo, Gue harus mandi lagi...” Miranda datang dengan melemparkan barang-barangnya ke atas meja ruang tengah kemudian menghempaskan tubuh di sofa. “...fiuh...!

Rahmi keluar dari ruangan redaksi yang mendadak jadi dressing room dengan penampilan yang benar-benar berbeda.

Who’s next ?!” pekik Salma dari dalam ruang redaksi.

“Aku, aku !” jawab Devy setengah bercanda seperti anak kecil sambil berlari-lari masuk ke dalam ruang yang sudah tidak jelas fungsinya itu.

“Liz, bisa bantuin Sarah dandan nggak ? Gue juga musti siap-siap euy, ceu !” giliran Dinda memekik dari dalam...

Gue jadi ragu apa ruangan itu masih ruang redaksi atau bukan...?

Coming...!” sahut Eliza sambil merapikan pakaianku. Setelah selesai denganku, ia tersenyum manis memandangku sejenak kemudian pergi ke ruang redaksi.

“Bos, Lo ntar jangan jauh-jauh dari Gue sama Mbak Shinta, ya. Soalnya Lo mau dikenalin sama tamu-tamu.” Ronald kembali membawel.

Yes, Sir...!” jawabku bercanda.

Rahmi berjalan menuju ruang distribusi untuk menemui prince charming-nya. Begitu ia tiba diambang pintu ruang distribusi, Paul dan Amed memandanginya dengan terkesima.

Anjirrr...!” ujar Amed dengan nada bercanda.

“Med, Lo tau reporternya Alive! yang namanya Rahmi ?” ujar Paul bertanya pada Amed.

“Iya, tau. Kenapa gitu ?”

“Kemana ya ?”

“Tadi sih masuk ruang redaksi...”

Mendengar candaan itu Rahmi langsung memukuli dan mencubiti Paul dengan membabi buta sementara kedua temannya itu tertawa-tawa.

“Eh, kalian teh udah jadian ya ?” tanya Amed bingung.

Paul dan Rahmi pun terdiam dengan wajah malu-malu.

“Ntar ya Med, makan-makannya abis launching...” jelas Rahmi sementara Paul tersipu-sipu malu.

“Ada yang liat kunci motor gue ga ?!” pekikku dari ruang tengah sambil mengenakan jas.

“Ada di gue...!!! Lo sih tadi narunya sembarangan...” Eliza menjawab dari dalam ruang redaksi.

“Emang lo mau ke mana Ric ?” tanya Mbak Shinta terheran-heran.

“Lho, ntar gue berangkat naik apa ?” jawabku bertanya pada Miranda dan semua orang yang ada di situ pun tertawa terbahak-bahak mendengar perkataanku itu.

Proses pedempulan pun telah berakhir dengan sukses ditandai dengan Sissy yang berhasil mengosongkan perutnya. Dengan ‘C-Class Sialan’ yang dikemudikan Mas Tono, aku, Ronald, Dinda dan Mbak Shinta pun meluncur menuju Empire. Sepanjang jalan aku tersenyum puas melihat pamflet Alive! menempel dimana-mana juga billboard mentereng bergambar Salma mengenakan gaun Dior dengan pose seksi sedang berdiri menantang terpaan angin. Pak Chris pasti senang karena umbul-umbul impiannya sudah terpasang sesuai keinginannya.

Mudah-mudahan kita nggak bangkrut cuman gara-gara launching sinting ini...

Setibanya kami di Empire, pesta hedon yang dirancang oleh Miranda dan Ronald pun dimulai. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Mbak Shinta dan Ronald selalu mendampingiku untuk bertemu dengan para tamu.

“Ric, ini chief editornya Sale, Ibu Nila Indriaty.” ujar Mba Shinta ditelingaku ketika kami berdua melangkah ke arah seorang wanita cantik berusia 30-an yang tersenyum pada kami.

“OK,” jawabku singkat.

“Ini toh Enrico Velazquez ?” Ibu Nila memastikan dengan lafal Velazquez yang semestinya. “Shin, kok Lo nggak bilang kalo pemred Lo ganteng ?”

Apa? Ganteng...? Amin...eh, dia bilang ganteng kan?

Tapi aku pun jadi risih karena Ibu Nila agak sulit melepaskan jabatan tangannya.

Aku pun diperkenalkan pada para tamu termasuk para undangan dari majalah lain, pejabat perusahaan-perusahaan sampai artis yang toh pada akhirnya aku tidak bisa mengingat mereka satu persatu.

Tadi yang dikenalin Miranda sama Gue, pemrednya majalah Statement itu siapa ya ? Terus artis yang Ronald kenalin barusan kan terkenal, model apa pemain sinteron gitu, siapa sih...? Lupa lagi Gue...

Setelah menyampaikan sepatah dua patah kata, aku dan Dinda sempat meladeni beberapa wartawan untuk ngobrol-ngobrol tentang Alive!.

“Mas Rico, gimana pendapat Mas Rico tentang masa depan majalah itu gratis ?”

“Saya nggak punya komentar buat itu, tapi yang pasti, sekarang, majalah panduan fashion yang terbaik itu gratis, ‘ma kasih.”

Aku pun segera membawa Dinda yang menggandeng lenganku menjauh dari rombongan wartawan dan membiarkan Miranda dan Ronald menghadapi mereka.

Malam itu Eliza jadi sasaran fotografer majalah-majalah fashion dan life style karena ke-Marc Jacobs-annya. Sementara itu Sissy bukan hanya beramah tamah dengan para klien, tetapi ia dan Salma juga mulai didatangi klien karena mereka tampak seperti duet Penelope dan Monica Cruz.

Semua acara yang dipandu oleh Magdalena Pinky dan Ivan Gunawan yang sering membuat para hadirin dan hadirat tertawa pun berjalan dengan sukses. Setelah runway, DJ Eric Blanco sudah siap mengambil alih panggung yang sempat berubah fungsi menjadi catwalk tersebut.

Aku berhasil mengasingkan diri dari keramaian bersama Dion yang tampak lebih rapi malam itu.

Mau club itu berubah jadi mosh pit juga, Gue udah nggak peduli...!

“Sukses ya ?” tanya Dion dengan rambut terikat dan kamera di tangan sambil berselonjor.

“Capek Gue...” kataku tersenyum puas.

Baru saja kami berdua menikmati bir dingin yang disajikan dengan tenang, Dinda dan Eliza mendatangi kami dan mengajak kami untuk...melantai...

“Gue nggak bisa joget, Liz...” kataku pada Eliza yang menyeretku masuk ke dalam segerombloan orang yang mulai asik menggoyangkan pinggang mereka.

“Nggak apa-apa, asal goyang aja...” Eliza berusaha menenangkan.

Setibanya di tengah-tengah keramaian, Eliza pun segera merangkulku dan mulai bergoyang sambil tersenyum lebar. Di sebelah kami Dion bergoyang dengan gerakan lucu bersama Dinda juga Amed dan Devy. Shanty dan Vivi juga ternyata sudah berada di situ lebih dahulu, mereka tampak sangat menikmati suasana tersebut. Sebagai tuan rumah, kami pun menjadi tontonan. Keadaan semakin seru ketika Ronald, Salma dan Sissy bersama kedua MC ikut bergabung disusul Paul yang menggeret Rahmi dan Sarah yang agak enggan.

“Seru kan ?” tanya Eliza padaku.

“Ya..., boleh lah...” kataku mengalah.

Saat itu Mbak Shinta masih sibuk menemani tamu-tamunya. Ia hanya bisa tersenyum-senyum sendiri ketika melihat beberapa temannya yang sedang ikut bergoyang mengikuti irama musik bersama-sama dengan orang-orang lain yang ada di situ. Mbak Shinta kemudian menyadari bahwa handphonenya ternyata berbunyi, ia pun segera mengeluarkan handphonenya dari dalam tas.

“Iya mas ?” ujar Mbak Shinta yang sudah langsung tahu siapa orang yang meneleponnya itu.

“Gimana Shin ? Lancar-lancar aja kan semuanya ?” tanya suara diseberang tersebut.

“Alhamdullilah, menurut mas gimana ?” jawab Mbak Shinta.

“Keren.” Puji suara tersebut.

“Terus ? Ada perkembangan ?” tanya Mbak Shinta.

“Beautifulogy bakalan gabung dalam waktu dekat. Ibu Mina mau 40% lebih saham Alive! atas nama anak perempuannya. Marketing gimana, ada perkembangan ?”

“Dior udah mau kontrak panjang, Mas. Secara gaunnya udah nongol di cover. Kate Spade juga, di edisi ketiga mereka mau iklannya semi katalog. Rico mau di endorse sama Burberry, mereka juga mulai kontrak panjang di edisi 3.”

“Wah, syukur deh kalo gitu. Kamu nggak ikutan joget Shin ?” ujar suara itu lagi sambil tertawa ringan.

“Pengen sih, mas,” Mbak Shinta berkata sambil setengah tertawa.

“Ya udah deh kalo gitu. Have fun aja ya Shin, saya mantau terus kok.”

“OK, mas.”

Setelah menutup teleponnya Mbak Shinta menarik nafas lega. Untuk sesaat ia termenung dan tersenyum puas lalu setelah berbasa-basi sejenak dengan tamunya lalu ia pun menyusul kami turun ke lantai dansa yang langsung disambut heboh oleh teman-teman.

Ditempat lain, malam itu Nadine yang memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya sedang berusaha menikmati perjalanannya. Dengan mata menerawang ke kegelapan malam, ia sudah memantapkan hati dan kini saatnya bagi dia untuk meninggalkan kehidupan yang telah ia jalani sebelumnya termasuk kenyamanan yang sempat ia peroleh kemarin-kemarin. Apa boleh buat, semuanya itu tidak bisa dibenarkan. Ia harus, musti meninggalkannya. Begitu tiba di rumah orang tuanya, Nadine segera membuka pintu rumah dengan langkah lunglai yang terasa lebih ringan. Ia bisa merasakan kehangatan rumah yang telah membesarkannya itu. Meskipun sekarang, semuanya akan sangat berbeda. Perlahan Nadine melangkah menuju ruang tengah. Di sana, ibunya tercinta tengah bangkit dari tempat duduknya kemudian menoleh ke arah Nadine. Dengan langkah gontai Nadine pun segera memeluk sang ibu dan keduanya pun bersimbah air mata.

Ibu Mina Purnama Asri Suryonegoro yang sebenarnya ada dalam guest list VIP kami tidak hadir demi kepulangan anaknya yang sudah berencana akan bercerai. Ia tidak pernah menyangka, kesempurnaan yang ia bangun bersama dengan suaminya, usaha dan keluarga, pada akhirnya harus diwarnai keretakan juga. Sebelumnya, Ibu Mina merasa bahwa semuanya ini bisa dipertahankan. Siang malam ia berdoa demi ketabahan Nadine, tapi sekarang ia harus menerima segalanya yang telah atau akan terjadi. Toh mau tidak mau pada akhirnya Nadine harus memilih jalan yang terbaik demi dirinya sendiri. Malam itu tidak ada satu katapun yang dapat Ibu Mina ucapkan. Ia hanya bisa pasrah, memeluk erat dan mengusap-usap punggung Nadine sebagai simbol kasih sayang.

“Kamu udah bener-bener siap nak ?” tanya Ibu Mina berusaha semantap-mantapnya.

“Nadine butuh waktu, tapi keputusan Nadine udah bulet...maafin Nadine ya, Ma...” ujar Nadine kemudian tersedu-sedu. Saat itu perasaannya sudah membeku dan ia sudah melupakan segalanya.

Ibu Mina mengangguk-angguk kemudian memejamkan matanya yang berlinang air mata dan tanpa ia sadari bibirnya tersenyum. Sekarang ia dapat merasakan bahwa anaknya itu sudah berada di tangan yang tepat dan selama setahun ini, akhirnya hatinya bisa merasa tenang, sangat tenang.

Malam itu juga, suami Nadine, Hardian Sugiono, pemimpin redaksi majalah Statement, menyelinap keluar dari pesta yang ada di dalam Klub Empire. Hardian yang memiliki penampilan keren itu memang menjadi dambaan banyak wanita. Ganteng dan pintar. Sebuah kombinasi yang diidam-idamkan oleh Miranda dari seorang pria selama ini. Bangga, itu lah yang Miranda rasakan ketika ia bisa mengenal sosok yang digilai oleh banyak perempuan itu. Di saat teman-temannya ingin sekali mengenal seorang Hardian, Miranda sudah memiliki nomor telepon chief editor papan atas tersebut di hanphonenya. Di saat cewek-cewek lain ingin sekali berkencan dengan Hardian, sekarang, keduanya sedang mengasingkan diri dalam mobil SUV milik Hardian yang memang kebetulan diparkir agak terpencil.

Do you enjoy this ?” tanya Hardian pada Miranda setelah mereka berbincang-bincang dengan akrab di dalam mobil.

Yes, I enjoy this.” Miranda menjawab dengan mantap sambil tersenyum.

EPISODE I : THE LAUNCHING